Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini Muh Akbar

Setelah Demo, Apalagi?

asca ditetapkannya kenaikan harga BBM pada tanggal 3 September 2022 pada pukul 14:30 WIB, secara simultan berbagai aksi demonstrasi telah terjadi.

zoom-inlihat foto Setelah Demo, Apalagi?
DOK PRIBADI
Muh Akbar - Mahasiswa Sosiologi Universitas Hasanuddin

Memang, faktor eksternal seperti munculnya provokator tidak boleh dihilangkan dari pembahasan. Dan, di sinilah “seni” gerakan sosial yang hakiki bisa digali dengan merujuk pada beberapa preseden, dan apa yang Mahatma Gandhi lakukan adalah rujukan yang bernas.

Gandhi mengenalkan Satyagraha sebagai alternatif gerakan untuk memusnahkan diskriminasi rasial di beberapa negara, seperti Afrika Selatan dan India yang masih berada dalam kungkungan Kolonialisme.

Praktik itu berusaha mengelaborasi aksi nirkekerasan dan usaha menyentuh hati lawan agar melunak.

Menurut Parekh dalam “Gandhi: Sebuah Pengantar Singkat” Metode ini memerlukan pengaktifan jiwa, mobilisasi energi moral yang ada di diri Individu, menarik baik kepala dan hati, dan menciptakan iklim kondusif menyelesaikan konflik berdasarkan niat baik bersama.

Terdengar filosofi memang, tapi prakteknya cukup mudah: bila anda dipukul, jangan melawan, bila anda dilempari, jangan balik melempar, bila anda dihina, jangan ikut menghina balik.

Apabila ini diterapkan, saya yakin gesekan yang tidak perlu antar pihak lawan, dan bahkan warga–yang keresahannya justru ikut disuarakan–tidak akan terjadi.

Efeknya tidak sampai disitu saja, kemungkinan persepsi positif dari sebuah gerakan sosial akan segera mengemuka di kalangan masyarakat luas.

Berisiko memang, tapi itu yang Gandhi lakukan, dan berhasil. Peralihan Haluan Target.

Agar perselisihan yang tidak semestinya terjadi dapat terealisasi, maka haluan target yang patut untuk dijadikan sasaran demonstrasi bukan lah masyarakat biasa yang menggunakan jalan umum.

Mereka yang berada dalam pucuk-pucuk kekuasaan seyogyanya ditodong ribuan pertanyaan, dimintai keberpihakan, dan seturut dengan itu mesti dipaksa menyuarakan isu ini tanpa melihat dia berangkat dari partai mana dan sedang berposisi apa di parlemen.

Inilah saatnya mendata dan melakukan verifikasi terhadap para pejabat dan pihak berwenang mana saja yang pas kiranya. Atau, kalau tidak mau repot, silahkan lakukan aksi sentral ke titik vital yang ditempati oleh para penguasa yang bersangkutan.

Biarpun aksi sektoral yang terjadi simultan di beberapa titik dan ruas jalan di Kota Makassar mempunyai maksud dan tujuannya tersendiri, akan tetapi hal itu tidak akan bernas apabila yang dirugikan secara materil dan mental adalah warga sendiri. 

Meski tidak selamanya kondisi akan begini.

Tulisan ini tidak akan cukup membahas kelemahan gerakan aktual, tapi setidaknya ia bisa menjawab: setelah demo, apalagi? dan jawabannya hanya evaluasi!(*)

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved