Opini Muh Akbar
Setelah Demo, Apalagi?
asca ditetapkannya kenaikan harga BBM pada tanggal 3 September 2022 pada pukul 14:30 WIB, secara simultan berbagai aksi demonstrasi telah terjadi.
Oleh: Muh Akbar
Mahasiswa Sosiologi Universitas Hasanuddin
TRIBUN-TIMUR.COM - Pasca ditetapkannya kenaikan harga BBM pada tanggal 3 September 2022 pada pukul 14:30 WIB, secara simultan berbagai aksi demonstrasi telah terjadi di beberapa titik wilayah yang ada di Indonesia, dan, Kota Makassar tergolong yang paling aktif menghiasi langit sorenya dengan orasi, puisi perlawanan, dan suara keresahan atas apa yang menimpa mereka hari-hari belakangan.
Namun, menurut penulis, ada yang cukup mengganggu dari gerakan yang diinisiasi oleh kebanyakan kelompok mahasiswa, Hal ini hadir jelas dalam sebuah video yang beredar di Internet.
Di video itu terdapat seorang ibu sedang berdebat kusir dengan kawanan mahasiswa.
Singkatnya si Ibu memprotes mengapa jalan ditutup, lalu menyarankan mereka mestinya pergi berdemo ke tempat yang dianggap strategis–gedung DPRD semisal.
Mahasiswa sebagai lawan debatnya itu pun menanggapi aksi yang mereka lakukan atas dasar keadaan darurat, dan lebih baik sengsara sementara (dengan menutup jalan) ketimbang sengsara selamanya-yang mungkin ia rujuk adalah kenaikan konsekuensi setelah naiknya BBM.
Dan, mirisnya adalah di Lokasi tempat debat kusir itu berlangsung selang beberapa jam setelahnya saling gesek terjadi antara warga dan mahasiswa.
Entah siapa yang memulai duluan memercik api tersebut sehingga membakar amarah masing-masing pihak. Jelasnya, botol, kayu dan batu kemudian banyak berbicara selepas gesekan terjadi.
Tidak ada kawan, mahasiswa dan masyarakat justru saling melempar satu sama lain.
Usaha untuk meredam amarah yang membuncah terasa membuang waktu saja. Seakan melempar-lempar adalah metode meluapkan emosi paling paripurna dalam kondisi seperti itu.
Insiden tersebut akhirnya berhenti ketika warga (kebanyakan pengendara) berhasil menerobos jalanan yang sebelumnya ditutup oleh kawan-kawan mahasiswa. Mungkin juga terhenti karena keduanya sadar itu adalah tindakan sia-sia.
Alih-alih menyuarakan isu lebih menggema sekaligus menyukseskan capaian yang diharapkan dari sebuah gerakan, aksi demonstrasi di Pintu 1 Unhas hari itu justru menelanjangi sedikit-demi sedikit kekurangan-kekurangan yang hadir. Dan menurut hemat penulis itu harus dievaluasi sesegera mungkin.
Perlawanan Tanpa Kekerasan
Yang mesti dicermati kawan-kawan mahasiswa adalah penggunaan gerakan nir-kekerasan yang total. Meski hampir mayoritas gerakan yang ada menjunjung tinggi rasa saling menghargai dan tanpa sedikitpun melibatkan kekerasan.
Namun dalam menit-menit terakhir kehadiran gerakan, kerap kali mereka kecolongan dalam sisi pengendalian emosi dan akhirnya menyulut keributan yang tidak berarti.