Opini Muh Akbar
Pohon Pisang di Antang
Dalam praktik berdemokrasi, kreativitas dalam mendedahkan pendapat bukan lah agenda yang utama. Cenderung dianggap tidak terlalu penting.
Seperti yang diungkap di awal, di Alam demokrasi sekarang sesuatu yang mestinya tidak terlalu penting malah menjadi aspek yang esensial dalam mengarungi kehidupan berdemokrasi, Salah satunya kreativitas dalam bergagasan atau berpendapat.
Sebagai suatu bentuk respon terhadap masalah publik, dalam beberapa waktu ke belakang, warga yang berada di sekitaran Jalan Poros provinsi di antang. Mencoba mendengungkan isu atau masalah itu untuk sekadar di dengar sang penguasa. Tentunya dalam balutan kreativitas.
Sebulan yang lalu semisal, mengutip TribunTribun.com tertanggal 13 April 2022, warga antang mencoba berinisiatif melakukan cor mandiri terhadap beberapa lubang yang terdapat di sana.
Semua bahan material untuk pengecoran berasal dari upaya kolektif dan sumbangan para warga. Mereka lelah menunggu perbaikan total dari sang penguasa.
Langkah independen yang dilakukan oleh warga antang memang lah patut diacungi jempol, namun hasil dari praktik kolektif itu tidaklah bertahan cukup lama.
Hal ini wajar. Sumber daya yang dimiliki oleh Para warga memang tidak ditujukan untuk menggantikan Peran penguasa dalam hal ini memperbaiki fasilitas publik.
Keadaan Jalan berlubang itu kemudian ditaktisi menggunakan langkah yang penulis lihat sebagai kreativitas dalam mendedah gagasan sekaligus bentuk " perlawanan yang sembunyi & quot;. Langkah itu teramat sederhana, mereka menanam pohon Pisang. Menanamnya dimana? Tepat di jalan yang rusak dan berlubang.
Sebenarnya praktik ini cukup lumrah apabila ditilik pada beberapa Kasus yang Sama.
Memang kehadiran pohon itu bisa dimaknai secara fungsional sebagai penanda bahwa Jalan itu rusak agar sukar dilalui.
Namun, bisa juga pohon itu justru merepresentasi Kan kekecewaan masyarakat terhadap apa yang mereka alami.
Pohon Pisang itu seolah tumbuh sehat melalui pupuk yang berasal dari rasa lelah dan letih menunggu pertanggung jawaban penguasa. Dan, bak dirawat oleh ketidakseriusan sang penguasa dalam memperbaiki Jalanan di Antang.
Penutup
Memang, sang penguasa tidak tinggal diam, konon katanya ruas Jalan Antang segera akan diperbaiki, tapi bukan pada tahun ini, melainkan untuk tahun 2023. Alasannya? Perkara birokrasi kaku, anggarannya tidak ada.
Akan tetapi bukan berarti ada pembiaran semata. Mestinya langkah darurat nan berkelanjutan diterapkan dalam menghadapi problema itu.
Jangan sampai dengan aksi di Antang justru memantik Jalan lain di Kota Makassar turut " menumbuhkan pohonnya & quot.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Warga-Antang-Raya-menanam-pohon-pisang-di-tengah-jalan-4.jpg)