Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

OPINI

Elegi di Tengah Pandemi: Strategi Penanganan Multibencana

angat penting untuk memastikan bahwa penataan rantai pasok logistik dan infrastruktur di daerah yang rawan bencana telah tertata dengan baik.

Editor: Jumadi Mappanganro
HANDOVER
Prof. Dr.-Eng. Adi Maulana, ST. M.Phil. 

Oleh: Prof. Dr.-Eng. Adi Maulana, ST. M.Phil.
Kepala Pusat Studi Kebencanaan Universitas Hasanuddin

Hampir semua negara besar mengalami permasalahan dalam penanganan pandemi Covid-19.

Tidak terkecuali dengan Indonesia, dengan segala keterbatasannya.

Di lain sisi, penanganan bencana alam seperti banjir, gempa bumi, tsunami, tanah longsor, kebakaran hutan, juga masih meninggalkan beberapa persoalan.

Ancaman terjadinya korban yang besar akibat terjadinya multibencana (terjadinya bencana alam di tengah Covid-19) sudah di depan mata apabila pemerintah tidak memiliki strategi dalam menghadapinya.

Berangkat dari skema kondisi terburuk terjadinya multibencana, ada beberapa strategi yang menurut hemat kami dapat dilakukan untuk mengatasi dampak dari terjadinya multibencana.

Terutama di daerah yang menjadi episentrum Covid-19 sekaligus merupakan daerah rawan bencana alam yaitu sebagai berikut.

UPDATE Corona Indonesia Rabu 17 Juni 2020, Jumlah Pasien Bertambah 540 Orang, 16.243 Sembuh, Sulsel?

Pertama, penguatan institusi pemerintah. Pemerintah pusat maupun daerah sudah dipastikan melakukan refocussing semua sumber daya yang ada untuk mengatasi Covid-19.

Namun, pemerintah pusat harus terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan lembaga-lembaga pemerintah lainnya agar bersiap untuk menghadapi terjadinya bencana alam.

BNPB dan BPBD harus terus berkoordinasi dengan Lembaga pemerintah lainnya yang mempunyai fasilitas untuk deteksi dini bencana seperti BMKG, BIG dan PMVBAG.

Mekanisme koordinasi harus lebih ditingkatkan sehingga peringatan dini bisa lebih diandalkan untuk keperluan mitigasi.

Terutama di daerah-daerah langganan bencana alam, seperti banjir, gempa bumi, letusan gunungapi dan tsunami.

Flexibilitas penggunaan dana desa dalam menghadapi multibencana harus dilakukan dengan tetap menjunjung tinggi transparansi dan pengawasan.

Fungsi dan peran lembaga RT, RW dan lurah sangat vital dalam kondisi menghadapi multibencana.

Kedua, penataan logistik dan infrastruktur.

Di setiap terjadi bencana, terjadi kelangkaan logistik yang disebabkan oleh terputusnya jaringan transportasi dan komunikasi yang berujung pada tidak adanya pasokan bahan makanan atau logistik serta bahan bakar minyak (BBM).

17 Pegawai Unhas Diminta Isolasi Mandiri Setelah Reaktif Saat Rapid Test Massal

Kondisi ini menyebabkan penderitaan yang dialami oleh korban akan semakin sulit dan pada umumnya mengakibatkan terjadinya kepanikan, penjarahan. Bahkan munculnya tindakan kriminal lainnya.

Oleh sebab itu, sangat penting untuk memastikan bahwa penataan rantai pasok logistik dan infrastruktur di daerah yang rawan bencana telah tertata dengan baik.

Ketiga, perekrutan atau pengerahan relawan. Dapat dipahami bahwa ditengah kondisi pandemi ini, perekrutan atau pengerahan relawan akan sangat terbatas.

Masing-masing individu pasti berfikir keras untuk menjadi relawan ditengah pandemi.

Namun, kondisi ini bisa dialihkan dengan melakukan perekrutan melalui daring atau online recruitment.

Relawan-relawan ini kemudian diberikan training atau pelatihan secara online yang free dilengkapi dengan sertifikat tentang bagaimana penanganan multibencana, dari materi prabencana, tanggap darurat sampai dengan materi pascabencana.

Para relawan juga akan berperan dalam mengkomunikasikan hal-hal penting terkait bencana seperti tata cara evakuasi, keberadaan dapur umum dan lain-lain.

Keempat, penyediaan tempat evakuasi dan penampungan sementara.

Untuk memutus penyebaran Covid-19, salah satu langkah yang efektif adalah dengan cara social distancing atau jaga jarak.

Tak Mampu Bayar Gaji, 61 Tenaga Honorer di Disdukcapil Maros Terpaksa Dirumahkan

Dalam hal terjadi bencana alam, penyediaan tempat evakuasi dan penampungan yang sesuai dengan protocol Covid-19 menjadi sangat penting.

Hotel-hotel, penginapan dan asrama milik pemerintah maupun swasta yang dalam masa pandemi ini kosong, harus dipersiapkan sebagai tempat evakuasi bagi korban bencana alam.

Fasilitas-fasilitas pemerintah yang mampu mengakomodir masyarakat dalam jumlah besar dengan tetap mengikuti protokol Covid-19 seperti social distancing harus segera dipersiapkan.

Kelima, peningkatan kesiapsiagaan individu. Dalam masa pandemi Covid-19 yang membatasi pergerakan sosial secara besar, sangat penting untuk selalu meningkatkan kesiapsiagaan individu.

Salah satunya adalah dengan terus meng-update informasi-informasi penting melalui perangkat komunikasi dan memonitoring informasi melalui situs-situs berita dari sumber yang terpercaya.

Penting untuk terus memonitoring informasi dari institusi yang diberikan kewenangan oleh pemerintah dalam menyebarluaskan informasi tentang bencana agar terhindar dari berita hoax.

Informasi juga bisa di dapatkan dari ketua RT dan RW setempat sehingga penting untuk selalu berkoordinasi dengan aparat pemerintah di semua level.

Pada akhirnya diperlukan kerjasama yang terkoordinasi dari semua stakeholders yang ada terutama di wilayah dengan tingkat kerawanan bencana alam dan tingkat penyebaran Covid-19 yang tinggi. (*)

Artikel di atas telah dimuat di Rubrik Opini koran Tribun Timur edisi cetak Rabu, 17 Juni 2020 

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Berita Populer

Inspirasi Kartini

 
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved