Rumah Ramadhan
Suara Hati Istri
Setidaknya jauh berbeda dengan gambaran sinetron yang mendangkalkan posisi perempuan di persimpangan poligami.
Butuh kesabaran tinggi untuk melakukan itu. Selain materi yang tidak seutuhnya dipahami karena harus beradaptasi kurikulum sekalipun tingkat sekolah dasar.
Seorang istri juga menjalankan rutinitasnya memasak dan sekaitan itu.
• Makanan Favorit Chaidir Syam Buah Segar dan Pisang Ijo
Belum dibayangkan jika istri juga seorang wanita karier yang dituntut bekerja dari rumah.
Beban kerja kantor yang diakses berbasis online, mengajar anak, memasak, mencuci, hingga membersihkan rumah.
Seluruhnya dikerjakan sendiri tanpa kepedulian suami. Sekalipun suami membantu tapi istri tidak puas, beda passion-nya.
Hal ini kadang orang lain abaikan, hanya perempuan yang mengerti.
Suara hati istri, begitu tulus, ikhlas. Seandainya, sehari saja ia berganti peran dengan suaminya, dipastikan suami tak mampu.
Bukankah lelaki lebih kuat secara fisik dibanding perempuan? Tentu, tapi pekerjaan yang dilakukan seorang istri tidak semata ditakar dari kekuatan fisik tapi sentuhan hati.
Itulah kekuatan perempuan, ia lebih kedepankan perasaan dibanding kekuatan.
Nabi ajarkan, lelaki yang terhormat adalah lelaki yang menghargai perempuan.
Ukuran penghargaan terhadap perempuan bukan semata pemenuhan kebutuhan material, uang belanja dan perhiasan.
Yang dibutuhkan adalah perhatian. Kelemahan sebagian suami adalah kekhilafannya untuk menghargai istri dengan memberikan perhatian.
Setidaknya itulah bagian dari suara hati istri yang patut didengarkan sang suami. Saya kira begitu! (*)
Baca juga kolom Rumah Ramadhan lain yang ditulis Firdaus Muhammad:
1. Pesan AGH Sanusi Baco Menyambut Ramadhan di Tengah Pandemi Covid-19
3. Keluarga
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/firdaus-muhammad_2.jpg)