Rumah Ramadhan
Suara Hati Istri
Setidaknya jauh berbeda dengan gambaran sinetron yang mendangkalkan posisi perempuan di persimpangan poligami.
Oleh: Firdaus Muhammad
Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UIN Alauddin Makassar dan Ketua Komisi Dakwah MUI Sulsel
HAMPIR setiap hari saya menonton sinetron Suara Hati Istri sekalipun tidak tamat.
Tidak utuh mengikuti ceritanya, tapi karena terlalu seringnya ditayangkan, terkesan ada kesamaan ceritanya.
Seorang istri yang menderita batin. Seorang suami pada akhirnya tidak pernah berada dalam posisi benar.
Itu kesimpulan sementara yang kemudian ‘digugat’ seorang penikmat sinetron itu dengan menimpali, itu fakta.
• Peduli Paramedis, Keluarga Mentan SYL di Makassar Berbondong-bondong Salurkan APD
Dia benar sesuai perasaan dan cara pandangnya. Setidaknya judul tulisan ini terinspirasi dari judul sinetron tersebut.
Lalu bagaimana Islam mengajarkan untuk memperlakukan seorang istri sesuai tuntunan agama?
Setidaknya jauh berbeda dengan gambaran sinetron yang mendangkalkan posisi perempuan di persimpangan poligami.
Islam sangat memuliakan posisi seorang istri setara dengan suami.
Suami berperan sebagai imam, sementara istri mendapatkan peran mulia, menjaga kehormatan dirinya dan harta suaminya.
Selain itu, istri sebagai ibu bagi anak-anaknya mendapat tugas sebagai al-madrasatul ula, sekolah pertama.
Ia membentuk karakter anak-anaknya, menanamkan nilai-nilai agama hingga meneladankan akhlak pekerti.
Seorang ibu memiliki kasih sayang dalam proses mendidik anaknya sehingga sangat membekas. Tidak seorang anakpun yang merasakan didikan ibunya tanpa bekas.
Tugas istri sepanjang mewabahnya virus korona makin padat tanpa mengenal jeda. Apalagi bersamaan dengan hadirnya bulan Ramadhan ini.
Seorang istri harus mengambil peran mengajar anaknya selama sekolah menerapkan sistem daring, belajar online di rumah.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/firdaus-muhammad_2.jpg)