Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Indonesia Emas atau Indonesia Cemas Tahun 2045

Pada negara gagal, negara tidak memberikan kesempatan ke rakyatnya untuk berinovasi bahkan negara begitu takut terhadapnya adanya inovasi.

Tayang:
Editor: syakin
DOK
Dwicky Wicaksana S., Mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin 

Oleh: Dwicky Wicaksana S.
Mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin

Berbicara tentang Indonesia Emas, berbicara tentang konsep yang diimpikan oleh bangsa Indonesia. Terlebih ketika kita mengambil tahun 2045 sebagai acuan, yang menandakan Indonesia sudah berusia 100 tahun.

Indonesia benar-benar menjadi emas jika berhasil memajukan sistem perekenomian dan politik yang bersifat inklusif, tetapi terlebih dahulu ada beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk menyongsong Indonesia Emas ini.

Sekarang kita menghadapi tantangan dunia dengan pesatnya kemajuan teknologi yang ada. Perubahan sudah menjadi keniscayaan dan pergerakannya yang bersifat eksponensial. Maka dari data itu mari kita analisis tentang yang kita hadapi sekarang.

Revolusi Industri 4.0

Sekarang kita memasuki zaman yang semua serba teknologi. Ketika dunia sekarang telah menjalankan konsep Revolusi Industri 4.0, kita masih saja berputar seakan konsep itu masih menjadi mimpi. Pada beberapa sektor industri masih saja banyak dari industri kita yang berputar pada tataran 3.0 dan bahkan ada yang masih berada pada tataran 2.0.

Itu menandakan bahwa kita masih ketinggalan jauh dari perkembangan teknologi yang ada saat ini. Kita terlambat 2 langkah bahkan 3 langkah dari kemajuan global. Padahal negara yang besar adalah negara yang dapat menyerap kemajuan teknologi. Jika dilihat dari arus sejarah “Revolusi Industri” pada awalnya memberikan kemakmuran bagi negara yang ingin mengadopsinya dengan cepat.

Era Disruption

Dalam beberapa kasus, banyak didapatkan kasus disruption. Karena sekarang kita menghadapi zaman yang berbeda. Di mana kita selalu disajikan dengan internet maka model dan nilai-nilai harus berbasis pada teknologi. Termasuk juga dalam bidang ekonomi, dalam kasus di Indonesia terdapat beberapa perusahaan yang baru, yang berbasis pada teknologi mendapatkan kemajuan yang pesat dan menggeser perusahaan lama yang telah ada sebelumnya.

Contohnya dapat dilihat ketika Gojek dan Grab mendisrupsi ojek konvensional dan BlueBird sebagai taksi konvensional lainnya.

Melihat dari dua point besar itu dapat ditarik benang merah. Bahwa tantangan terbesar yang kita hadapi sekarang ini adalah masalah teknologi. Teknologi yang begitu hebatnya sehingga siapa saja yang ketinggalan dan lambat meresponnya akan menjadi tertinggal. Sehingga didapatkan harusnya ada perombakan pada beberapa aspek yang ada di Indonesia untuk menjadikannya menjadi benar-benar Indonesia Emas.

Pertama, pendidikan. Sektor pendidikan merupakan hal yang sangat penting untuk mewujudkan cita-cita Indonesia Emas. Pendidikan seharusnya menjadi penyongsong akan kemajuan teknologi, sehingga dalam sistem pendidikan pelajaran-pelajaran yang berkaitan dengan teknologi harus diajarkan dengan metode yang sesuai dengan perkembangan zaman.

Pendidikan juga semestinya memberikan semangat inovasi pada murid-muridnya. Inovasi ini sangat penting untuk menyerap dan memajukan teknologi yang ada di Indonesia.

Kedua, ekonomi dan politik yang inklusif. Untuk memajukan Indonesia Emas 2045 dibutuhkan sistem ekonomi dan politik yang mencakup semua elemen yang ada di masyarakat. Segala kebijakan yang keluar harus berpihak kepada rakyat dan berlaku adil tanpa memandang bulu. Seperti yang ada pada buku Why Nation Fail dikatakan bahwa negara gagal disebabkan karena adanya sistem ekonomi dan politik yang bersifat ekstraktif (tidak inklusif).

Pada beberapa negara gagal segala kebijakan tidak berpihak kepada rakyat tapi berpihak kepada kaum elite. Pada negara gagal, negara tidak memberikan kesempatan ke rakyatnya untuk berinovasi bahkan negara begitu takut terhadapnya adanya inovasi.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved