Habibie dan Nasionalisme
Kebijakan Habibie yang sangat strategis satu persatu dihabisi. Misalnya terbaru, Krakatau Steel (pabrik baja). Padahal industri strategis wajib ada
Karena saya menulis tentang Habibie, maka saya tutup dengan mengutip salah seorang pakar internasional—sebagaimana dikutif Majalah Hidayatullah edisi Oktober—yang lahir dari kebijakan Sang Teknokrat, namanya Kaharuddin Djenod Daeng Manyambeang, katanya. Mindset pemerintah itu pengadaan.
Orde manapun begitu, kecuali era Pak Harto dan Pak Habibie yang memiliki mindset masa depan. Selain itu, kita masih banyak kepentingan. Apa pun kebijakannya, semua driven by politic. Ini yang membuat kita tak pernah bisa besar. Kebijakan Habibie yang sangat strategis satu persatu dihabisi. Misalnya terbaru, Krakatau Steel (pabrik baja). Padahal industri strategis wajib ada dan dikuasai untuk membangun peradaban. Kata Pak Habibie, “Jika mau menjadi negara besar kuasai maritim dan dirgantara. Sejak selesai Pak Harto dan Pak Habibie semuanya sudah berbeda.”
Kaharuddin berkisah bahwa suatu saat perusahaannya ikut lelang desain kapal yang diadakan pemerintah RI. Bersainglah dengan perusahaan luar negeri. Keluar sebagai pemenang adalah perusahaan dari Jepang. Ternyata perusahaan dari Jepang itu minta tolong kepada Kaharuddin untuk mengerjakan desain kapal yang diminta Indonesia.
Melihat narasi di atas, ada baiknya kalau kita belajar nasionalisme dari orang Jerman. Prinsipnya, salah atau benar, jika ini negaraku, akan aku dukung. Right or wrong, it’s my country!
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/dr-ilham-kadir_.jpg)