Menemukan Kembali Nasion Kita
Perspektif historis diperlukan karena banyak orang Indonesia mengalami amnesia sejarah yang serius selama beberapa dekade belakangan
Kedua, perlunya mengenali masalah ideologi hiper-nasionalis yang telah menguasai imajinasi publik. Ketiga, perlunya membongkar amnesia publik Indonesia tentang sejarahnya sendiri yang kompleks.
Dia kemudian menjelaskan lebih rinci. Pertama, menurutnya perspektif historis yang lebih luas membantu agar terhindar dari kecendrungan penyamarataan yang berlebihan yang terjadi dalam berbagai diskusi dalam memperhitungkan dan nilai penting kejatuhan rezim Orde Baru.
Banyak analisis dan komentar telah melebih-lebihkan kebaruan berbagai hal yang terjadi sesudah 1998. Kedua, sebuah perbandingan dengan masa lalu penting untuk dilakukan karena sentimen nasionalisme yang berlebihan (hiper-nasionalisme) terus berjaya di Indonesia hingga kini.
Ketiga, perspektif historis diperlukan karena banyak orang Indonesia mengalami amnesia sejarah yang serius selama beberapa dekade belakangan. Masalahnya, sekalipun terjadi pengagungan terhadap kebangsaan dan romantisisasi masa lalu, baik sejarah resmi yang dirayakan sebagai kisah hidup di bawah perjuangan nasional kemerdekaan maupun kisah sulitnya hidup di bawah penjajahan Belanda sama-sama bermasalah.
Ini akibat dihapusnya aspek-aspek rumit dan tak menyenangkan sejarah bangsa Indonesia dalam penulisan kitab sejarah resmi. Sepertinya konsep tentang bangsa adalah senantiasa pembangunan ulang dan penemuan kembali indentitas sosial kita. Kasus Wamena dan berbagai peristiwa konflik horizontal belakangan ini menguji seberapa mengerti kita tentang ejarah Indonesia. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/babra-kamal.jpg)