Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Menemukan Kembali Nasion Kita

Perspektif historis diperlukan karena banyak orang Indonesia mengalami amnesia sejarah yang serius selama beberapa dekade belakangan

Editor: syakin
DOK
Babra Kamal, Alumni Universitas Hasanuddin 

Memperingati 91 Tahun Sumpah Pemuda

Oleh: Babra Kamal
Alumnus Pascasarjana Ilmu Politik Universitas Hasanuddin

Akhir-akhir ini kita kembali disuguhi berbagai peristiwa yang memilukan di tanah air, peristiwa Surabaya yang kemudian berlanjut kepada peristiwa Wamena kembali menggugah perasaan nasionalisme kita. Banyak yang kembali membuka perdebatan tentang kasus Papua. Ada yang menyuarakan untuk memberikan referendum ada pula yang sebaliknya.

Mengenai hal itu, hari ini (28/10/2019) adalah tepat 91 tahun peringatan Sumpah Pemuda. Kembali kita diingatkan tentang satu momen bersejarah bagi terbentuknya bangsa dan negara Indonesia.

Pemuda dari seluruh penjuru tanah air pada saat itu, membulatkan tekad berikrar untuk menjadi satu bangsa, satu tumpah darah dan menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan.

Imagined Communities

Memang berbicara soal bangsa seolah tiada habisnya, bangsa senantiasa dinamis, sesuai corak dan perangkat zaman yang mengikutinya. Konsep bangsa yang unik ini, karena seperti yang disebut Benedict Anderson dalam Imagined Communities atau komunitas terbayang adalah suatu entitas atau unit social yang terbentuk dari hasil imaginasi.

Menurut Ben, nasionalisme atau konsep tentang bangsa tercipta karena adanya kapitalisme percetakan, penemuan mesin cetak-lah yang kemudian mendorong penyebaran gagasan tentang bangsa.

Sederhananya menurut Ben, komunitas terbayang adalah ketika kita tidak saling kenal namun kita masing-masing mendaku sebagai satu komunitas (bangsa). Misalnya saudara kita di Aceh dengan Papua, mereka tidak saling kenal tapi semua merupakan bagian dari bangsa Indonesia.

Memang tak bisa dipungkiri penyebaran gagasan tentang Indonesia banyak ditopang oleh penyebaran koran dan bacaan yang dipelopori oleh para pendiri bangsa. Bahkan jauh sebelum Bung Karno gagasan tentang negara yang merdeka ini sudah menyebar terutama dikalangan kaum terdidik.

Perspektif Historis

Konsep Ben berkonsekwensi pada konsep bangsa yang senantiasa dinamis, Proklamasi 17 Agustus 1945 oleh Bung Karno dan Hatta yang kemudian mendapat pengakuan internasional pada tahun 1949 adalah salah satu momen historis paling penting dalam sejarah kita
berbangsa dan bernegara.

Menurut Ariel Heryanto, Indonesia pasca-1998 mengingatkan kita pada negara ini ketika berada pada dekade pertama kemerdekaannya. Dalam dua periode berbeda Indonesia mencoba membangun ulang dirinya.

“Kedua Periode ini menyaksikan tumbuh-kembangnya harapan-harapan baru, tetapi juga luka-luka sosial yang telah lama ada, seiring dengan tumbangnya puing-puing kelembagaan yang dihasilkan oleh peralihan kekuasaan. Orang Indonesia dalam dua periode itu kaget ketika disadarkan kenyataan: segera sesudah musuh bersama lenyap, mereka harus menghadapi tantangan lebih berat dalam memelihara persatuan sesama mereka agar bisa melangkah maju,” lanjut Heryanto.

Professor University of Melbourne ini kembali menegaskan tiga alasan tentang kesejajaran situasi Indonesia mutakhir dan masa sesudah kemerdekaan. Pertama, perlunya memahami kondisi masa kini dengan perspektif historis yang memadai.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved