Politik Identitas atau Melawan Kesewenang-Wenangan?
Pandangan-pandangan yang menganjurkan rakyat untuk makin mencintai negara hanya karena momen-momen tahunan
Ketika masyarakat Papua sedang marah dan merasa martabat mereka dilecehkan, ketimbang mengusut pelaku rasisme itu, Presiden malah meminta agar kasus rasis di Surabaya dimaafkan saja. Sementara polisi dan tentara terus mengalir ke Papua untuk menenangkan keadaan yang nyatanya justru makin panas. Hal ini tak jauh berbeda dengan DPR yang seolah tak peka pada polemik dalam masyarakat. Rakyat yang merasa diabaikan kemudian berkumpul dan menjelma sebagai gelombang besar demonstrasi.
Dalam keadaan ini, pandangan-pandangan yang menganjurkan rakyat untuk makin mencintai negara hanya karena momen-momen tahunan, justru ketika negara mempertontonkan ketidakpahaman terhadap persoalan rakyatnya, cuma mungkin lahir di tengah masyarakat yang dari awal sudah sangat chauvinistik.
Kesetiaan pada negara hanya setitik cara menghargai jasa para pahlawan. Tetapi, sepanjang sejarah bangsa yang penuh darah dan air mata ini, apa yang diajarkan para pahlawan adalah perlawanan konsisten pada kesewenang-wenangan penguasa, yang barangkali pada waktu itu kebetulan bernama Hindia Belanda.*
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/fathul-karimul-khair.jpg)