Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Ramah Tamah, Macoa Bawalipu Sambut Raja dan Sultan dengan Karpet Merah

Kegiatan berlangsung di SalassaE (baruga), Dusun Benteng, Desa Lampenai, Kecamatan Wotu, Luwu Timur, Sulawesi Selatan (Sulsel)

Penulis: Ivan Ismar | Editor: Sudirman
Ivan ismar
ramah tamah raja dan sultan se-nusantara di SalassaE (baruga), Dusun Benteng, Desa Lampenai, Kecamatan Wotu, Luwu Timur, Sulawesi Selatan (Sulsel) sebagai rangkaian Festival Keraton Nusantara (FKN) ke XIII, Kamis (12/9/2019). 

TRIBUNLUTIM.COM, MALILI - Badan Pekerja Adat Lembaga Adat Bawalipu, sukses melaksanakan ramah tamah raja dan sultan se-nusantara, Kamis (12/9/2019).

Kegiatan berlangsung di SalassaE (baruga), Dusun Benteng, Desa Lampenai, Kecamatan Wotu, Luwu Timur, Sulawesi Selatan (Sulsel), sebagai rangkaian Festival Keraton Nusantara (FKN) ke XIII.

Seperti diketahui, Forum Informasi dan Komunikasi Keraton se-Nusantara (FIKKN) yang menunjuk Kedatuan Luwu sebagai tuan rumah.

Awalnya Gosip & Dijodoh-jodohkan Rafly Gowa DAcademi Indosiar Mantap Lamar Ega DA Intip Foto-fotonya

Workshop Kewirausahaan, Asisten Asministrasi Umum Enrekang Ajak Perempuan Mandiri Finansial

40 Mahasiswa FEB Unismuh Belajar Keuangan Syariah di Universitas Sains Islam Malaysia

Festival Keraton Nusantara (FKN) ke-13 (XIII) digelar Kedatuan Luwu pada 6-12 September 2019.

Macoa Bawalipu ke-61, Bau Muh Aras Abdi To Baji Pua Sinri menyambut tamunya Sri Paduka Datu Luwu, Andi Maradang Mackulau Opu To Bau, raja dan sultan dengan karpet merah.

Lengkap pula dengan atap dari kain merah sebagai peneduh bagi tamu menuju SalassaE, yang dibentangkan sejumlah olitau (pemuda).

Sementara di dekat SalassaE sudah berjejer sejumlah tenda yang menampung ribuan tamu adat dan warga di lokasi acara.

Tari Kajangki dan Sumajo menjadi persembahan bagi tamu yang baru pertama kali menginjakkan kaki di Wotu.

Tim Verifikasi Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Nasional, Dirjen Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI sudah memverifikasi Tari Sumajo, Kamis (17/5/2019).

Sementara Tari Kajangki milik adat Wotu tahun 2018 sudah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda. Macoa menilai seni budaya Luwu Timur sesungguhnya sejajar dengan budaya lain di nusantara.

Bukan hanya itu, makanan dari bahan dasar sagu juga ditampilkan dalam acara tersebut seperti dange, Lanye-lanye, sinole dan berbagai jenis kue.

VIDEO: Kasus Penyimpangan Remaja Marak, Ini Kata Kasatreskrim Polres Bulukumba

BREAKING NEWS: DPRD Sulsel Kirim Rekomendasi Hak Angket Gubernur ke Mendagri dan APH

Ramai Diperbincangkan, Luna Maya Tampil di Majalah Fashion, Syahrini Istri Reino Barack Menyusul

Bupati Luwu Timur Thorig Husler, sangat bangga dan bersyukur Wotu menjadi tuan rumah ramah tamah dengan tamunya raja dan sultan dari dalam dan luar negeri.

"Kehadiran raja dan sultan di Wotu membawa berkah bagi kami disini," kata Husler sambutan di acara itu.

Ketua Badan Pekerja Adat Lembaga Adat Bawalipu, Muhammad Nur mengatakan, tamu dari kerajaan dan sultan yang hadir di Wotu adalah tamu kehormatan.

"Kita sebagai tuan rumah harus menjamu tamu dengan baik apalagi ini raja dan sultan," kata Cici sapaannya.

Halaman
12
Sumber: Tribun Timur
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved