Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

OPINI

OPINI - Antara Larangan Bertanya dan Teguran Berimajinasi

Penulis adalah Mahasiswa Jurusan Ilmu AL-Quran dan Tafsir UIN Alauddin Makassar

Editor: Aldy
tribun timur
Mahasiswa UIN Alauddin Makassar, Jurusan Ilmu Al-Quran dan Tafsir 

Pastinya ini akan berpengaruh pada kinerja otak anak sekaligus berpengaruh pada tingkat pertumbuhan anak selanjutnya.

Seperti malu bertanya plus malas berimajinasi? Dan perihal ini jelas adalah sebuah masalah.

Bisa bisa, ketika para pendidik (guru dan dosen) usai menjelaskan materi maka suara jangkrik lah yang bakal jadi peramai kelas, “Krik...krik..krik...”

Baca: Warga Protes Anggaran Desa Turatea, ACC Minta Kejari dan Polres Jeneponto Responsif

Padahal bagi pendidik, pertanyaan dalam kelas adalah pertanda bahwa materi yang dipaparkan berjalan baik hingga memancing peserta didik menindaklanjuti.

Materi yang sengaja dipaparkan sedemikian singkatnya dan akan dikembangkan dari rasa ingin tahu para peserta didik.

Seperti yang dijabarkan oleh Bapak George Leowestein yang merupakan seorang psikologi dalam teorinya “ The Psychology of Curiosity” bahwasanya keingintahuan muncul ketika perhatian seorang terfokus pada sebuah informasi yang dirasa kurang memadai.

Begitu pun dengan imajinasi, seperti yang dikutip di Kompasiana bahwa sebuah study 2007 terhadap para calon guru, ada 68 persen percaya bahwa para pelajar perlu fokus untuk menghafal jawaban yang benar dari pada memikirkannya secara imajinatif.

Kalau saat ini sudah jadi guru “sungguhan”, kita perlu memahami bahwa yang diperkuat itu bukan hafalan melainkan bagaimana imajinasi dan kreatifitas memperkuat cara menghafal sehingga apa yang dihafal tidak mudah lupa.(*)

Catatan: tulisan ini telah terbit di Tribun Timur edisi cetak, Sabtu (24/08/2019)

Sumber: Tribun Timur
Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Berita Populer

Cinta dan Syukur

 
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved