OPINI
OPINI - Antara Larangan Bertanya dan Teguran Berimajinasi
Penulis adalah Mahasiswa Jurusan Ilmu AL-Quran dan Tafsir UIN Alauddin Makassar
Oleh:
Nonna
Mahasiswa Jurusan Ilmu AL-Quran dan Tafsir UIN Alauddin Makassar
Saya masih ingat ketika seorang dosen usai mengajar, seketika bertanya kepada para mahasiswa- mahasiswinya, “Adakah pertanyaan terkait dengan materi barusan?”
Tak ada balasan sedikitpun berupa suara waktu itu. Bisa dibilang hanya suara jangkrik yang asyik keluar masuk kelas dengan suara khasnya, “Krik..krik..krik”.
Sontak, sang dosen hanya tersenyum dan berkata “Hanya ada dua kemungkinan, kalian sudah sangat mengerti atau tidak sama sekali”.
Sang dosen lalu menjelaskan bahwa sebagian mahasiswa sekarang malah kehilangan kebiasaan anak-anaknya, yakni banyak bertanya dan berimajinasi.
Faktanya memang iya. Anak anak memiliki ciri khas yang amat doyan bertanya, bahkan melebihi wartawan senior?
Karena saking banyaknya pertanyaan yang muncul dalam benak mereka, kadang anak-anak kewalahan menyebutkan satu per satu pertanyaan yang ingin disebutnya untuk menyerang ayah, ibu, atau kakak kakaknya.
Baca: Wabup Mamasa Janji Anggarkan Kultur Jaringan Bagi Komunitas Anggrek di Tondokbakaru
“Ayah mau ke mana ibu? Kapan pulang? Kok bajunya tidak diganti? Ayah mau ngapain di sana? Sama siapa? Adik bisa ikut tidak? Kalau tidak kenapa? Kalau ayah lambat pulang bagaimana? Kalau ayah tidak makan, bagaimana? Bagaimana kalau begitu dan begini?”
Lantas apa jawaban dari pertanyaan yang bisa dibilang mengusik gedang telinga ibu saat itu? Biasanya hanya akan dijawab dengan kalimat singkat.
“Stop stop.. Ayah baik baik saja.”
Belum lagi kalau jawaban ibu dibarengi dengan nada keras atau bentakan yang mengisyaratkan kepada sang anak untuk tidak bertanya lagi, jelas ini sangat berpengaruh pada kinerja otak anak yang bisa dikatakan berpengaruh pada area otak yang menghubungkan antara otak kanan dan kiri, seperti yang ungkapkan Martin Teicher yang merupakan seorang profesor psikiatri di Harvard Medical School.
Lain lagi ketika kita harus pandai berimajinasi, berimajinasi pada hal hal yang menurut kita itu perlu, bukan malah menganggapnya sebagai angan angan dan omong kosong.
Maka wajar jikalau Albert Eintein beranggapan bahwa imajinasi jauh lebih penting dibanding pengetahuan.
Padahal Einstein sendiri adalah seorang saintik yang selalu membuktikan kebenaran teori dengan ilmu pengetahuan secara empirik.
Hingga tampak jelas, pengetahuan memang sangat penting namun untuk mengembangkan sebuah kreativitas dalam menciptakan sebuah karya jelas ini sangat membutuhkan imajinasi yang cukup liar.
Atau kita hanya terkungkung dalam ilmu pengetahuan tanpa adanya pengembangan.
Baca: Dinkes Sulsel Bakal Hibahkan Ambulans, Khusus Laut Diserahkan ke Pangkep
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/nonna.jpg)