OPINI
Jalan Keluar Perdamaian di Palestina
Tulisan ini merupakan catatan dari Simposium PPI Timur Tengah dan Afrika 2019 di Amman, Yordania.
Ribuan seminar dan pertemuan internaslonal diadakan, namun tidak satupun yang membuahkan hasil, dan memang tidak akan membuahkan hasil selama rezim zionis masih eksis.
Cara yang paling ampuh menghapus Rezim Zionis yang tanpa perang, tanpa pertumpahan darah dan tanpa harus menguras dan menghamburkan dana besar adalah metode demokrasi. Metode ini diterima semua orang, termasuk oleh Amerika Serikat sendiri yang mengklaim diri sebagai kampiunnya demokrasi.
Izinkan bangsa Palestina menentukan nasibnya sendiri. Izinkan bangsa Palestina yang terdiri dari Muslim, Yahudi dan Kristen menentukan sendiri bentuk pemerintahan yang mereka kehendaki melalui referendum yang bebas. Dan mereka yang baru berdatangan di Palestina baik dimasa persiapan maupun setelah Rezim Zionis terbentuk harus kembali ke negara asal mereka masing-masing.
Telah tiba waktunya untuk menciptakan kehidupan dunia yang lebih baik, dalam ikatan persaudaraan, perdamaian dan saling menghormati satu sama lain. Semua pihak harus bergandengan tangan dalam melakukan usaha global untuk menegakkan perdamaian dunia dan mengikis akar ketidak amanan dan ketidak adilan dunia. Rezim zionis lahir dari pemikiran dan sikap pembangkangan pada titah Tuhan, pada ajaran para Nabi. Karena itu harus dihentikan.
Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Kawasan Timur Tengah dan Afrika yang terdiri dari PPI-PPI negara di kawasan, dalam rangka mengupayakan perdamaian dunia inilah saat ini menggelar Simposium dengan tema, "Dari Indonesia, untuk Palestina, menuju Perdamaian Dunia." Seminar yang terselenggara dari 20-24 Juni 2019 di Universitas Jordan, kota Amman, Yordania. Dihadiri delegasi di antaranya dari PPI Lebanon, IPI Iran, HPMI Yordania, PPI Tunisia, PPMI Mesir, dan PPMI Arab Saudi sebagaimana amanat UUD 1945 bahwa penjajahan di muka bumi harus dihapuskan.
Amanat ini mengandung makna menyuarakan suara bersama bahwa Palestina tidak akan pernah sendiri. Membela dan mendukung kemerdekaan Palestina bukan hanya amanat UUD 1945 namun juga panggilan kemanusiaan serta perintah Tuhan yang menciptakan manusia setara dan tidak boleh saling menzalimi satu sama lain. (*)
Catatan: tulisan ini telah terbit di Tribun Timur edisi cetak, Sabtu (22/06/2019)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/08122018_amin_ismail.jpg)