OPINI
Serbuan Pencari Kerja Seusai Lebaran
Ketika berlangsung arus balik tidak sedikit pemudik yang kemudian menggandeng sanak saudara mereka dari kampung halaman
Akhirnya, kita ribut di kota tetapi absen melihat keributan itu di desa. Menghabiskan tenaga memadamkan api yang sedang membakar gedung, tetapi tidak berusaha menyiram api yang bersumber pada gedung lain. Padahal kebakaran tersebut berasal dari gedung sebelah.
Begitupun dengan persoalan mobilitas dan arus balik yang melekat dengan serbuan pencari kerja. Setiap tahunnya menjadi persoalan yang banyak di bicarakan di sudut-sudut kantor pemerintahan. Namun, hal yang mendapat porsi sedikit dari setiap pergunjingan di balai-balai kantor pemerintahan adalah minimnya perhatian tentang pembicaraan mengenai persoalan di desa.
Yah, masalahnya ada di desa bukan di kota. Di kota hanyalah akibat dari gejala yang begitu masif berlangsung di desa. Arus mobilisasi pencari kerja dari desa karena mandetnya serapan tenaga kerja di desa. Nyaris tidak ada sektor riil yang kemudian bisa menyerap tenaga kerja di desa.
Sektor pertanian sebagai salah satu sektor yang bisa di harapkan menekan angka pengangguran pun tak cukup efektif meredam arus mobilisasi pencari kerja ke kota. Penyebabnya sangat variatif, mulai dari semakin sempitnya kesempatan dan lahan pertanian di desa, hingga persoalan tersisihnya mata pencarian pertanian sebagai mata pencarian di desa khususnya bagi anak zaman sekarang. (*)
Catatan: tulisan ini telah terbit di Tribun Timur edisi cetak, Selasa (11/06/2019)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/sunardi-sip-mpa_20170619_132252.jpg)