OPINI

Serbuan Pencari Kerja Seusai Lebaran

Ketika berlangsung arus balik tidak sedikit pemudik yang kemudian menggandeng sanak saudara mereka dari kampung halaman

Serbuan Pencari Kerja Seusai Lebaran
handover
Sunardi SIP MPA, Pemerhati Perburuhan - Alumni FISIP Unhas 

Persoalan ini pada akhirnya menjadi beban sosial. Bukan hanya pada kota tetapi pada pencari kerja, keluarga di desa dan para penghuni kota lainnya. Mau tidak mau, mereka harus bersaing dengan pendatang dari tempat lain ditengah sesaknya kehidupan kota yang semakin riuh.

Mobilitas Penduduk

Kementerian perhubungan (Kemenhub) telah mencatat, jika setiap tahun mobilitas penduduk terbilang cukup tinggi, khususnya menjelang hari raya dan pasca-lebaran. Kemenhub mencatat sejak tiga tahun terakhir mobiltas penduduk melalui arus mudik-arus balik mengalami kenaikan sekitar 100-an lebih setiap tahunnya.

Seperti pada angkutan jalan bus misalnya, sejak tahun 2016, angka penumpang baik mudik maupun balik telah menyentuh angka 4.253.782 (BPS, 2017) dan terus bergerak naik menjadi 4.379.508 pada tahun 2017 serta naik 2,49 % pada tahun 2018 menjadi 4.488.389 (Trasnmedia Kemenhub, 2018).

Artinya, setiap tahun terjadi pergerakan yg begtu masif, mobilitas bersilang baik dari kota ke desa lalu kembali dari desa ke kota dan terus meningkat cukup fantastis. Sayangnya, perdebatan yang mencuak seriring dengan fenomena mobilitas yang tinggi lebih banyak pada perdebatan kependudukan dan ancaman persoalan kepadatan kota. Tidak pada akar masalah.

Akhirnya, kita ribut di kota tetapi absen melihat keributan itu di desa. Menghabiskan tenaga memadamkan api yang sedang membakar gedung, tetapi tidak berusaha menyiram api yang bersumber pada gedung lain. Padahal kebakaran tersebut berasal dari gedung sebelah.

Begitupun dengan persoalan mobilitas dan arus balik yang melekat dengan serbuan pencari kerja. Setiap tahunnya menjadi persoalan yang banyak di bicarakan di sudut-sudut kantor pemerintahan. Namun, hal yang mendapat porsi sedikit dari setiap pergunjingan di balai-balai kantor pemerintahan adalah minimnya perhatian tentang pembicaraan mengenai persoalan di desa.

Yah, masalahnya ada di desa bukan di kota. Di kota hanyalah akibat dari gejala yang begitu masif berlangsung di desa. Arus mobilisasi pencari kerja dari desa karena mandetnya serapan tenaga kerja di desa. Nyaris tidak ada sektor riil yang kemudian bisa menyerap tenaga kerja di desa.

Sektor pertanian sebagai salah satu sektor yang bisa di harapkan menekan angka pengangguran pun tak cukup efektif meredam arus mobilisasi pencari kerja ke kota. Penyebabnya sangat variatif, mulai dari semakin sempitnya kesempatan dan lahan pertanian di desa, hingga persoalan tersisihnya mata pencarian pertanian sebagai mata pencarian di desa khususnya bagi anak zaman sekarang. (*)

Catatan: tulisan ini telah terbit di Tribun Timur edisi cetak, Selasa (11/06/2019)

Editor: syakin
Sumber: Tribun Timur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved