Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

OPINI

Serbuan Pencari Kerja Seusai Lebaran

Ketika berlangsung arus balik tidak sedikit pemudik yang kemudian menggandeng sanak saudara mereka dari kampung halaman

Tayang:
Editor: syakin
handover
Sunardi SIP MPA, Pemerhati Perburuhan - Alumni FISIP Unhas 

Sunardi SIP MPA
Pemerhati Perburuhan - Alumni FISIP Unhas

Lebaran telah usai. Aktifitas kerja telah menanti. Seperti biasa, dalam tradisi tahunan yang tidak tertulis, musim Lebaran selalu ditandai dengan arus mudik, yang kemudian tiga hari setelah lebaran akan di susul dengan arus balik.

Sebuah istilah yang selama ini digunakan untuk menyematkan bagi orang-orang yang hendak pulang ke kampung halaman sekaligus sebagai titik balik bagi para pekerja untuk kembali ke aktifitas kerja. Ada hal yang sering menggelitik seiring dengan arus balik.

Arus balik, tidak hanya mengembalikan orang-orang lama ketempat lama, tetapi menjadi fenomena bagi orang-orang baru yang datang ke kota. Yah, arus balik selalu erat kaitannya dengan serbuan pencari kerja.

Momen ini biasanya digunakan oleh pencari kerja yang berasal dari berbagai daerah di Sulawesi Selatan. Kedatangannya seiring dengan kedatangan para pemudik saat arus balik ke kota.

Ketika berlangsung arus balik tidak sedikit pemudik yang kemudian menggandeng sanak saudara mereka dari kampung halaman. Sdekedar untuk mencicipi suasana kota atau setidaknya untuk mengadu peruntungan nasib di kota seperti di Makassar.

Harapannya, di Makassar mereka bisa terserap dalam dunia kerja. Di antara mereka ada yang berhasil. Mendapatkan pekerjaan sesuai harapan, lalu kehidupan berubah menjadi jauh lebih baik. Hal sama akan dilakukan, kelak ketika mudik dan kembali ke kota akan
mengajak keluarga yang lain. Lalu orang baru datang lagi dan siklus yang sama akan berlangsung kembali.

Tetapi tidak sedikit dari para pencari kerja yang gagal. Terpental dari persaingan kerja. Alasan pendidikan dan soft skill, menjadi tembok besar yang seringkali memutus harapan pencari kerja. Akhirnya, harapan dari desa untuk bisa mendapat pekerjaan tak kunjung datang. Malah kini pencari kerja berhadapan dengan masalah baru, masalah besar.

Tentang biaya bertahan hidup, tempat tinggal dan desakan dari kerabat di desa yang terus mempertanyakan, kerja dimana, sudah dapat kerja atau belum. Sulit dibayangkan, tetapi beban kini bertambah lebih berat. Kali ini kota benar-benar tak seindah dalam bayangan mereka. Kota tak cukup ramah bagi yang tak berpunya. Kini pilihannya ada dua, kembali ke desa atau tetap mencoba peruntungan dan terus mencoba. Celakanya, lebih banyak yang memilih bertahan sembari menggantungkan mimpi-mimpi mulia, bisa terserap pada dunia kerja.

Harapan itu meskipun kecil terus di pelihara, untuk menyemangati diri yang mulai lesuh.

Persoalan ini pada akhirnya menjadi beban sosial. Bukan hanya pada kota tetapi pada pencari kerja, keluarga di desa dan para penghuni kota lainnya. Mau tidak mau, mereka harus bersaing dengan pendatang dari tempat lain ditengah sesaknya kehidupan kota yang semakin riuh.

Mobilitas Penduduk

Kementerian perhubungan (Kemenhub) telah mencatat, jika setiap tahun mobilitas penduduk terbilang cukup tinggi, khususnya menjelang hari raya dan pasca-lebaran. Kemenhub mencatat sejak tiga tahun terakhir mobiltas penduduk melalui arus mudik-arus balik mengalami kenaikan sekitar 100-an lebih setiap tahunnya.

Seperti pada angkutan jalan bus misalnya, sejak tahun 2016, angka penumpang baik mudik maupun balik telah menyentuh angka 4.253.782 (BPS, 2017) dan terus bergerak naik menjadi 4.379.508 pada tahun 2017 serta naik 2,49 % pada tahun 2018 menjadi 4.488.389 (Trasnmedia Kemenhub, 2018).

Artinya, setiap tahun terjadi pergerakan yg begtu masif, mobilitas bersilang baik dari kota ke desa lalu kembali dari desa ke kota dan terus meningkat cukup fantastis. Sayangnya, perdebatan yang mencuak seriring dengan fenomena mobilitas yang tinggi lebih banyak pada perdebatan kependudukan dan ancaman persoalan kepadatan kota. Tidak pada akar masalah.

Akhirnya, kita ribut di kota tetapi absen melihat keributan itu di desa. Menghabiskan tenaga memadamkan api yang sedang membakar gedung, tetapi tidak berusaha menyiram api yang bersumber pada gedung lain. Padahal kebakaran tersebut berasal dari gedung sebelah.

Begitupun dengan persoalan mobilitas dan arus balik yang melekat dengan serbuan pencari kerja. Setiap tahunnya menjadi persoalan yang banyak di bicarakan di sudut-sudut kantor pemerintahan. Namun, hal yang mendapat porsi sedikit dari setiap pergunjingan di balai-balai kantor pemerintahan adalah minimnya perhatian tentang pembicaraan mengenai persoalan di desa.

Yah, masalahnya ada di desa bukan di kota. Di kota hanyalah akibat dari gejala yang begitu masif berlangsung di desa. Arus mobilisasi pencari kerja dari desa karena mandetnya serapan tenaga kerja di desa. Nyaris tidak ada sektor riil yang kemudian bisa menyerap tenaga kerja di desa.

Sektor pertanian sebagai salah satu sektor yang bisa di harapkan menekan angka pengangguran pun tak cukup efektif meredam arus mobilisasi pencari kerja ke kota. Penyebabnya sangat variatif, mulai dari semakin sempitnya kesempatan dan lahan pertanian di desa, hingga persoalan tersisihnya mata pencarian pertanian sebagai mata pencarian di desa khususnya bagi anak zaman sekarang. (*)

Catatan: tulisan ini telah terbit di Tribun Timur edisi cetak, Selasa (11/06/2019)

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved