opini
OPINI: Kebaya Heroisme Opu Daeng Risaju
Perempuan pejuang ini memilih dicopot dari keluarga bangsawan Luwu daripada harus meninggalkan partai dan mengikuti kemauan Belanda.
Oleh: Andi Nur Fitri Balasong
(Officer Pencapaian SDGs Wilayah II Indonesia)
Ketenaran RA Kartini sebagai pahlawan nasional asal Jepara, memang tak terbantahkan. Kebaya yang dikenakannya menjadi simbol keanggunan dan kebangsawanannya.
Dalam masa pingitan, Kartini remaja tetap berjuang, membaca buku-buku, mendirikan sekolah gratis bagi perempuan sebayanya dan menulis surat pada teman-temannya yang berada di Belanda.
Jika di Jepara punya Kartini, sejarah Sulawesi Selatan yang juga sebenarnya banyak melahirkan pejuang perempuan. Salah satunya adalah Opu Daeng Risaju.
Ia lahir di daerah Luwu pada tahun 1880. Risaju adalah putri dari pasangan Muhammad Abdullah To Bareseng dan Opu Daeng Mawellu.
Opu Daeng Mawellu adalah keturunan langsung dari La Makkasau Petta I Kera, putra dari Raja Bone XXII (1749-1775) La Temmasonge Matinroe Ri Malimongeng.
La Temmasonge inilah yang menikah dengan Bau Habibah, putri dari Syekh Yusuf Tuanta’ Salamaka’ Ri Gowa yang dikenal sebagai Bapak Demokrasi di Afrika Selatan.
Dengan demikian, dari garis ayah dan ibunya, Risaju merupakan keturunan raja-raja dari kerajaan Tellumpoccoe Maraja atau tiga kerajaan utama di Sulawesi Selatan yaitu Kedatuan Luwu, Gowa, dan Bone. (Ensiklopedi Sejarah Luwu, 2005).
BACA JUGA: OPINI - Perlindungan Publik dan Penanggulangan Bencana di Indonesia
BACA JUGA: OPINI - Menyoal Tenaga Kerja Asing
Sejak kecil, Risaju telah dididik dengan berbagai macam ilmu pengetahuan terutama menyangkut etika dan moral.
Risaju diperkirakan menikah pada tahun 1905 atau awal 1906 dengan seorang ulama dari Bone, Haji Muhammad Daud.
Sembari memperdalam ilmunya, ia dan suami kemudian menjadi anggota Sarekat Islam (SI) pada tahun 1927 setelah berkenalan dengan Haji Muhammad Yahya, pendiri sekaligus ketua SI di Pare-pare.
Melalui keterlibatannya di Sarekat Islam, Risaju kemudian tenggelam dalam perjuangan dan politik. Atas perjuangan keras dan lobi-lobinya, banyak cabang Sarekat Islam berdiri.
Di tanah kelahirannya sendiri, Palopo, ia diangkat menjadi ketua pada 14 Januari 1930. Ia didapuk menjadi ketua.
Selama berkecimpung di Sarekat Islam, ia harus rela keluar masuk penjara karena dianggap membangkang pada Belanda dan dituduh menghasut rakyat untuk melawan penjajahan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/andi-nur-fitri-balasong_20180422_002204.jpg)