Jika Bendungan PT Vale Jebol, 7 Daerah di Luwu Timur Ini Kena Dampaknya

Turbin dan generator digerakkan oleh aliran air Sungai Larona yang ditampung pada tiga bendungan.

Jika Bendungan PT Vale Jebol, 7 Daerah di Luwu Timur Ini Kena Dampaknya
HANDOVER
Bendungan PLTA PT Vale 

Laporan Wartawan TribunLutim.com, Ivan Ismar

TRIBUNLUTIM.COM, MALILI - PT Vale membangun dan mengoperasikan tiga Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) untuk kebutuhan energi listrik tanur peleburan dan pengolahan nikel di Sorowako, Sulawesi Selatan (Sulsel).

PLTA tersebut adalah PLTA Larona, PLTA Balambano dan PLTA Karebbe.

Ketiga PLTA beroperasi sejak tahun 1978, 1999 dan 2011 itu menghasilkan energi listrik sebesar 365 megawatt.

Turbin dan generator digerakkan oleh aliran air Sungai Larona yang ditampung pada tiga bendungan.

Baca: PT Vale Indonesia bakal Gelar Simulasi Kegagalan Bendungan PLTA

Namun, selama bendungan PLTA Larona, Karebbe dan Balambano beroperasi, PT Vale Indonesia belum pernah melakukan simulasi bencana kepada masyarakat.

Sesuai dokumen Rencana Tindak Darurat (RTD) PT Vale Indonesia, wilayah terkena dampak kegagalan bendungan yaitu Desa Laskap, Pongkeru, Wewangriu, Kelurahan Malili, Pasi-Pasi, Baruga Balantang dan Puncak Indah.

Adapun prakiraan warga yang terkena dampak sebanyak 23.354 jiwa sesuai data kependudukan Kecamatan Malili 22 Juni 2016 dan hasil perhitungan.

Dalam mengantisipasi kondisi darurat banjir, PT Vale menggunakan sistem peringatan banjir yang disebut Flood Warning System (FWS).

Sistem peringatan banjir ini akan memberikan peringatan dalam bentuk sirene apabila level ketinggian air sungai dianggap melebihi batas normal atau berpotensi banjir.

Baca: PT Vale Nyatakan Seluruh PLTA Aman Pasca Gempa, Ini Penjelasannya

"RTD diimplementasikan PT Vale untuk memberikan perlindungan kepada masyarakat serta menjaga kesinambungan lingkungan akibat pembangunan dan operasionalisasi PLTA," kata Director of Communications & External Affairs PT Vale, Gunawardana Vinyaman dalam rilisnya ke TribunLutim.com, Jumat (12/10/2018).

"Ini meliputi tanggung jawab dalam hal pemantauan dan perawatan PLTA, implementasi sistem peringatan bencana, serta tindakan evakuasi apabila terjadi bencana," imbuhnya.

Dokumen RTD Bendungan PT Vale telah dikonsultasikan dan mendapat persetujuan dari Balai Bendungan, Balai Besar Wilayah Sungai Pompengan-Jeneberang (BBWS PJ) dan Bupati Luwu Timur.

"Saat ini kami sedang melakukan persiapan simulasi RTD dengan melibatkan pihak-pihak terkait. Akan kita lakukan setelah fokus penanganan tanggap darurat pada bencana gempa di Palu," ucap Gunawardana.(*)

Penulis: Ivan Ismar
Editor: Mahyuddin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved