Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Bagaimana Media Sosial Membajak Perhatian Kita dan Cara Melawan Candu Doomscrolling

Namun, setelah menutup aplikasi, saya kembali membuka aplikasi yang sama beberapa menit kemudian tanpa sadar, menonton video tanpa batas

Tayang:
Editor: Mansur AM
Tribun-timur.com/Citizen Reporter
Andi Muhammad Riangga Bahrul Ulum, Mahasiswa Universitas Brawijaya, Alumnus Ponpes IMMIM Makassar 
Ringkasan Berita:
  • Kebiasaan membuka ponsel ketika tugas menumpuk sering dianggap sebagai kurang disiplin, padahal neurosains menunjukkan bahwa notifikasi dan aliran konten tanpa henti memang secara otomatis mengalihkan perhatian kita. 
  • Studi EEG dan fMRI menemukan bahwa notifikasi melemahkan fokus, sementara penggunaan ponsel yang berlebihan dapat mengubah konektivitas otak antara sistem reward dan kontrol eksekutif, membuat dorongan untuk memeriksa ponsel semakin sulit dilawan.

 

Penulis: Andi Muhammad Riangga Bahrul Ulum

Mahasiswa Universitas Brawijaya, Alumnus Ponpes IMMIM Makassar

TRIBUN-TIMUR.COM - Beberapa waktu lalu, saya menyadari pola yang sering muncul ketika tugas semakin menumpuk. Saat tenggat waktu semakin dekat, saya membuka ponsel untuk memberi diri waktu istirahat sejenak.

Namun, setelah menutup aplikasi, saya kembali membuka aplikasi yang sama beberapa menit kemudian tanpa sadar, menonton video yang jumlahnya tidak terbatas. Dua jam terasa berlalu begitu cepat tanpa jejak yang jelas.

Teman-teman saya juga merasakannya. Ada kesan bahwa perhatian kami telah diambil tanpa sepengetahuan kami.

Seringkali, kebiasaan seperti ini disalahartikan sebagai kurang disiplin. Namun ternyata, riset neurosains menunjukkan gambaran yang lebih kompleks. Notifikasi ponsel, aliran konten tanpa henti, dan ikon aplikasi ternyata memengaruhi sistem kognitif kita dengan cara yang jauh lebih dalam daripada yang kita bayangkan.

Apa Kata Neurosains Tentang Kebiasaan Ini?

Penelitian yang dilakukan Upshaw et al., pada tahun 2022 silam, menemukan bahwa setiap kali ponsel memberikan notifikasi, otak kita menanggapi secara otomatis, mengalihkan perhatian kita dari tugas yang sedang dikerjakan.

Baca juga: Pelatih PSM 3 Kali ‘Serangan Jantung’, Trucha Tak Mau Drama Persis Terulang Saat Hadapi Persebaya

Studi menggunakan EEG (elektroensefalografi) menunjukkan bahwa notifikasi mengurangi power theta (yang berhubungan dengan perhatian), sementara aktivitas alpha-beta meningkat, yang menandakan melemahnya fokus kita ketika gangguan muncul.

Penelitian lebih lanjut dengan fMRI oleh Choi et al. (2021) menunjukkan bahwa individu dengan pola penggunaan ponsel bermasalah mengalami perubahan konektivitas antara jaringan reward dan area kontrol eksekutif pada otak mereka.

Temuan ini menjelaskan mengapa banyak orang merasa dorongan yang tak terhindarkan untuk kembali memeriksa ponsel, meskipun mereka tahu hal itu akan mengganggu produktivitas.

Mengapa Kita Jadi Lupa Waktu?

Salah satu efek yang paling mencolok dari kebiasaan doomscrolling ini adalah persepsi waktu yang terdistorsi. Ketika kita sering terpapar pada konten yang instan, otak kita kesulitan untuk merekam kejadian tersebut dalam memori jangka panjang.

Sebagai hasilnya, pengkodean episodik kita melemah, membuat kita tidak menyadari berapa banyak waktu yang telah terbuang. Satu jam terasa seperti hanya beberapa menit saja.

Menurut Montag dan Becker (2023), fragmentasi perhatian yang dihasilkan oleh penggunaan media yang berlebihan menghambat kemampuan kita untuk fokus dalam waktu yang lama. Ini adalah masalah besar bagi mereka yang membutuhkan konsentrasi tinggi, seperti pelajar atau pekerja.

Dampaknya Bagi Masyarakat Apa?

Fenomena ini sangat merugikan, khususnya bagi pelajar dan pekerja. Perhatian terpecah-pecah yang karena distraksi yang berulang-ulang, dan ini membuat kemampuan kita dalam membaca, menulis, atau berpikir kritis menjadi lebih lambat.

Kita merasa sudah mengerjakan suatu hal, namun hasilnya tidak sebanding dengan waktu yang kita habiskan. Setiap kali kita mengalihkan perhatian dari satu tugas ke tugas lain, otak kita harus "mereset" fokus.

Proses ini menguras energi mental dan mengganggu ritme kerja kita. Itulah mengapa produktivitas menurun meski kita merasa selalu sibuk.

Mengatur Ulang Kebiasaan Digital

Namun kabar baiknya adalah neurosains juga memberikan solusi. Upshaw et al. (2022) menemukan bahwa latihan perhatian singkat sebelum bekerja dapat membantu menjaga kontrol kognitif, meski gangguan notifikasi tetap hadir. Pada tahun 2020, penelitian Huckins dan kawan-kawan juga menunjukkan bahwa pengurangan intensitas penggunaan ponsel, terutama pada malam hari, dapat mendukung pemulihan fokus dan kualitas tidur yang lebih baik.


Riset menunjukkan bahwa kita tidak perlu menghindari teknologi secara ekstrem, tetapi yang diperlukan adalah pengelolaan sadar atas kebiasaan kita. Misalnya, mematikan notifikasi selama mengerjakan tugas penting, menempatkan ponsel jauh dari jangkauan saat bekerja, atau menetapkan waktu tanpa layar adalah langkah-langkah sederhana yang dapat membantu kita memulihkan stabilitas fokus.

Mari Mengambil Kendali Atas Perhatian Kita

Masalahnya bukan pada moralitas atau kemalasan, tetapi pada desain teknologi itu sendiri. Banyak aplikasi yang menarik perhatian kita dengan memberikan reward sosial dan aliran informasi yang tak pernah berhenti.

Seringkali kita tidak sadar bahwa kita telah dibajak oleh teknologi. Namun, kita bisa mulai mengambil langkah-langkah kecil yang konkret untuk mengembalikan kendali. Mengubah kebiasaan ini memang tidak mudah, tetapi dengan mulai berproses, kita memiliki kesempatan untuk memulihkan waktu yang sering kali terbuang tanpa terasa.(*)

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved