Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Muhammadiyah Sulsel

Menteri Abdul Mu'ti Titip Pesan Moderasi Beragama di Syawalan Muhammadiyah Sulsel

(Mendikdasmen) Republik Indonesia yang juga Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof Abdul Mu’ti menghadiri Syawalan 1447 Hijriah

Tayang:
Penulis: Rudi Salam | Editor: Muh Hasim Arfah
Tribun-timur.com
SYAWALAN MUHAMMADIYAH - Prosesi peluncuran buku dalam acara Syawalan 1447 Hijriah Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulawesi Selatan di Halaman Pusat Dakwah Muhammadiyah Sulsel, Jalan Perintis Kemerdekaan, Makassar, Sabtu (28/3/2026). Acara tersebut dihadiri Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Republik Indonesia yang juga Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof Abdul Mu’ti. 

Dari forum itu, menurut dia, lahir himpunan pemikiran yang kemudian disusun menjadi mozaik gagasan tentang bagaimana Muhammadiyah memahami tauhid bukan hanya sebagai akidah yang diyakini.

Tetapi juga sebagai horizon yang menggerakkan pembaruan sosial, pendidikan, ekonomi, kelembagaan, dan pemberdayaan umat.

Hadisaputra menilai, salah satu kekuatan utama buku tersebut terletak pada kemampuannya memperlihatkan tauhid sebagai sistem makna yang hidup. 

Dalam pembacaan itu, tauhid tidak tampil sekadar sebagai doktrin, tetapi sebagai kerangka simbolik, etis, dan praksis yang membentuk cara warga Muhammadiyah memandang dunia, menilai krisis, menyusun strategi, dan membangun institusi. 

Karena itu, peluncuran buku di momentum Syawalan dipandang sejalan dengan semangat Muhammadiyah yang menjadikan Syawal bukan sekadar penutup suasana Lebaran, tetapi awal untuk melanjutkan energi Ramadhan ke dalam kerja-kerja gerakan.

Buku setebal lebih dari 300 halaman itu diterbitkan oleh Majelis Pustaka dan Informasi PWM Sulsel dan menghimpun tulisan dari sejumlah tokoh Muhammadiyah Sulsel.

Seperti Prof Ambo Asse, Prof A Qadir Gassing, Prof Arifuddin Ahmad, Prof Mustari Bosra, Dr Abd Rakhim Nanda, Dr Dahlan Lama Bawa, Dr Abbas Baco Miro, Prof Zulfahmi Alwi, Dr Muhammad Syaiful Saleh, Dr Pantja Nur Wahidin, Prof Budu, Prof Gagaring Pagalung, Dr Husain Abd Rahman, Dr Mawardi Pewangi, dan Dr Mahmudah. 

Dalam uraian pembahasannya, buku itu bergerak dari genealogi pemikiran akidah Muhammadiyah, isu-isu akidah kontemporer, gagasan tauhid para tokoh, manhaj tarjih, praksis amal usaha, ekonomi umat, hingga pengembangan cabang, ranting, dan masjid sebagai pusat pemberdayaan.(*)

Sumber: Tribun Timur
Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved