Muhammadiyah Sulsel
Menteri Abdul Mu'ti Titip Pesan Moderasi Beragama di Syawalan Muhammadiyah Sulsel
(Mendikdasmen) Republik Indonesia yang juga Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof Abdul Mu’ti menghadiri Syawalan 1447 Hijriah
Penulis: Rudi Salam | Editor: Muh Hasim Arfah
Dalam penjelasannya, soal-soal yang berbeda itu berada dalam wilayah ijtihad, dan ijtihad, benar atau salah, tetap mengandung nilai ikhtiar di hadapan Allah.
Yang lebih berbahaya, menurut dia, justru mereka yang memperkeruh suasana dan menjadikan perbedaan sebagai bahan bakar pertikaian.
“Nggak usah ngotot siapa yang paling benar, nggak usah ngotot siapa yang masuk surga,” kata Mu’ti, disambut tepuk tangan tamu undangan.
Launching Buku
Syawalan 1447 Hijriah Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulsel tidak hanya menjadi ajang silaturahmi warga persyarikatan.
Tetapi juga menjadi panggung peluncuran buku “Tauhid sebagai Energi Spiritual dan Sosial Muhammadiyah: Bunga Rampai Pemikiran dan Aplikasinya.”
Peluncuran buku ditandai dengan penandatanganan pada replika sampul buku oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Prof Abdul Mu’ti, Gubernur Sulsel Andi Sudirman Sulaiman, dan Ketua PWM Sulsel Prof Ambo Asse.
Setelah penandatanganan, kegiatan dilanjutkan dengan penyerahan buku oleh Prof Ambo Asse kepada Prof Abdul Mu’ti, Andi Sudirman Sulaiman, perwakilan Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM), dan perwakilan Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ’Aisyiyah (PTMA).
Ketua Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) PWM Sulsel, Dr Hadisaputra, yang juga menjadi editor buku bersama Andi Asywid Nur, mengatakan, peluncuran buku itu sengaja ditempatkan dalam momentum Syawalan.
Sebab, forum tersebut tidak hanya mempertemukan warga Muhammadiyah dalam suasana kebersamaan pasca-Ramadhan, tetapi juga menyediakan ruang untuk meneguhkan kembali fondasi ideologis gerakan.
Menurut Hadisaputra, buku itu lahir dari forum pengajian Ramadan PWM Sulsel, yang kemudian dibukukan, sebagai sumber pengetahuan, sumber orientasi gerakan, dan sumber energi peradaban.
Karena itu, kehadiran buku tersebut di tengah Syawalan dimaksudkan sebagai pengingat bahwa persyarikatan tidak cukup hanya dirawat dengan silaturahmi, tetapi juga harus diteguhkan dengan gagasan.
“Buku ini sesungguhnya lahir dari persilangan antara penguatan akidah, kebutuhan konsolidasi persyarikatan, dan ikhtiar untuk menurunkan gagasan tauhid ke dalam aksi. Karena itu, judulnya tidak ornamental,” katanya.
“Ada penekanan pada pemikiran, tetapi pemikiran itu tidak dibiarkan membeku. Ada penekanan pada tauhid, tetapi tauhid itu tidak diperlakukan sebagai wilayah abstraksi yang jauh dari realitas,” sambung Hadisaputra.
Hadi, sapaan akrab Kepala Humas Unismuh Makassar itu menjelaskan, buku tersebut merupakan buah intelektual dari Pengajian Ramadan 1447 Hijriah PWM Sulsel yang digelar di Pesantren Darul Arqam Muhammadiyah Gombara pada 11-12 Ramadan 1447 H atau 28 Februari-1 Maret 2026.
| Muhammadiyah Sulsel-Baznas Gelar Pesantren 'Jalan Cahaya' Bagi Anak Jalanan dan Pemulung di Makassar |
|
|---|
| Senyuman Gubernur Sulsel Sambut Agenda Strategis Muhammadiyah Sulsel |
|
|---|
| Muhammadiyah Berbenah Pasca SDIT Bermunculan, Didik Suhardi: Sudah Waktunya Kita Naik Kelas |
|
|---|
| Muhammadiyah Sulsel Bakal Pengajian Ramadan, Kaji Pengembangan Wasathiyah Islam Berkemajuan |
|
|---|
| Pj Gubernur Fadjry Jufry Silaturahmi ke Muhammadiyah Sulsel, Bahas Isu Strategis |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/20260328_SYAWALAN-MUHAMMADIYAH_SYAWALAN-muhammadiyah-sulsel.jpg)