Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Silaknas & Milad ke 35 ICMI

Diskusi Silaknas HUT ICMI, Andi Suruji: Bicara Ekonomi Syariah, Utamakan Sisi Adilnya

Andi Suruji menilai pendekatan keadilan jauh lebih inklusif dan dapat diterima oleh masyarakat luas. 

Penulis: Rudi Salam | Editor: Muh Hasim Arfah
Tribun-Timur.com
PENDEKATAN UNIVERSAL- Wartawan Senior Andi Suruji, menjadi pembicara dalam Diskusi Publik Menyambut Silaturahmi Kerja Nasional (Silaknas) ICMI 2025 dan Milad ke-35 ICMI melalui Zoom dan disiarkan secara langsung melalui YouTube Tribun Timur, Kamis (4/12/2025). Andi Suruji, menilai ekonomi dan keuangan syariah perlu pendekatan lebih universal, menonjolkan prinsip keadilan, bukan semata-mata isu halal dan haram atau riba. 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Pemimpin Umum Tribun Timur, Andi Suruji, menilai ekonomi dan keuangan syariah perlu pendekatan lebih universal.

Yakni menonjolkan prinsip keadilan, bukan semata-mata isu halal dan haram atau riba. 

Menurutnya, strategi komunikasi pelaku industri keuangan syariah masih terfokus pada aspek fikih. 

Pendekatan tersebut pun dinilai menghambat masuknya kelompok lain atau masyarakat umum yang tidak terikat pada terminologi halal dan haram.

“Ketika Anda bicara halal dan haram atau riba, Anda memblok orang-orang yang punya duit untuk masuk ke keuangan syariah. Yang harus digencarkan adalah bahwa ekonomi keuangan syariah itu ekonomi yang adil,” kata Andi Suruji, dalam diskusi publik menyambut Silaturahmi Kerja Nasional (Silaknas) Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) 2025, yang disiarkan langsung melalui YouTube Tribun Timur, Kamis (4/12/2025).

Andi Suruji menilai pendekatan keadilan jauh lebih inklusif dan dapat diterima oleh masyarakat luas. 

Ia mencontohkan produk saham syariah dan obligasi syariah yang justru banyak diminati investor non-muslim karena tingkat transparansinya tinggi. 

Baca juga: Prof Arfin Hamid: Ekonomi Syariah Jangan Lagi Hanya Fokus pada Anti-riba

Produk-produk tersebut memiliki struktur pengelolaan dana yang jelas, sehingga menciptakan rasa aman dan adil bagi investor.

Andi Suruji menilai implementasi keadilan dalam industri keuangan syariah masih perlu dibuktikan lewat layanan nyata. 

Salah satunya ketertinggalan digitalisasi di lembaga keuangan syariah dibandingkan bank konvensional.

Andi Suruji juga menyinggung lambatnya perkembangan layanan, seperti pinjaman online (pinjol) berbasis syariah.

Padahal seharusnya layanan tersebut bisa menjadi solusi yang lebih adil dan transparan bagi masyarakat. 

Selain itu, Andi Suruji menyoroti kurangnya transparansi margin dalam produk tabungan maupun pembiayaan di bank syariah.

Menurutnya, apabila lembaga keuangan syariah dapat menampilkan nilai keadilan secara nyata, maka masyarakat akan datang dengan sendirinya tanpa harus diimbangi dengan narasi halal dan haram.

“Nah, yang begini-begini kalau transparan dapat dirasakan adilnya. Saya kira orang akan berbondong-bondong ke keuangan syariah. Asuransi juga begitu, pembiayaan juga begitu,” jelas Andi Suruji.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved