Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Harga BBM Naik

Harga Pertamax di Sidrap Melonjak ke Rp16.650 per Liter, Sopir Angkot Khawatir Semua ke Pertalite

Harga Pertamax yang sebelumnya berada di kisaran Rp12.600 per liter kini melonjak menjadi Rp16.650 per liter.

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Hardiyanti Kamaluddin | Editor: Saldy Irawan
Tribun-timur.com/Hardiyanti Kamaluddin
HARGA BBM NAIK-Sopir angkot di terminal Pangkajene, Kecamatan Maritengngae, Kabupaten Sidrap, Kamis (11/6/2026).Sopir angkot juga mengeluhkan BBM naik karena bisa berdampak pada kelangkaan Pertalite karena banyaknya pengguna Pertamax yang beralih ke BBM Subsidi. 

TRIBUN-TIMUR.COM, SIDRAP — Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi jenis Pertamax mulai dikeluhkan masyarakat Kabupaten Sidrap.

Harga Pertamax yang sebelumnya berada di kisaran Rp12.600 per liter kini melonjak menjadi Rp16.650 per liter.

Kenaikan tersebut dinilai cukup memberatkan, terutama bagi masyarakat yang setiap hari bergantung pada kendaraan untuk bekerja dan beraktivitas.

Di sejumlah SPBU di Sidrap, keluhan pengguna Pertamax terus terdengar.

Mereka mengaku pengeluaran untuk bahan bakar meningkat drastis dalam waktu singkat.

Faikar, salah seorang pengguna Pertamax yang melakukan perjalanan Sidrap-Sengkang, mengaku sangat merasakan dampak kenaikan tersebut.

"Biasanya kalau saya mengisi Rp300 ribu bisa dapat sekitar 24 liter. Sekarang dengan nominal yang sama hanya terisi sekitar 18 liter. Sangat terasa sekali," katanya saat ditemui di SPBU Pertamina Wala, Kecamatan Maritengngae, Kabupaten Sidrap, Kamis (11/6/2026).

Menurutnya, biaya transportasi yang semakin tinggi membuat pengeluaran bulanan ikut membengkak.

Padahal kebutuhan rumah tangga lainnya juga terus mengalami kenaikan.

Keluhan serupa tidak hanya datang dari pengguna kendaraan pribadi.

Para sopir angkutan kota atau pete-pete juga mengaku ikut terdampak oleh kenaikan harga Pertamax.

Ilyas, salah seorang sopir angkot di Sidrap, mengaku khawatir kenaikan harga Pertamax akan memicu perpindahan pengguna ke BBM subsidi jenis Pertalite.

"Saya khawatir kalau pengguna Pertamax beralih ke Pertalite, Pertalitenya akan cepat habis dan bisa-bisa menjadi langka. Mau tidak mau kami harus beli Pertamax, sedangkan penghasilan juga pas-pasan. Bahkan sering kali kami tidak dapat penumpang," ujarnya saat ditemui di Terminal Pasar Pangkajene.

Menurut Ilyas, kondisi sopir angkot saat ini jauh berbeda dibanding beberapa tahun lalu.

Jumlah penumpang terus menurun seiring meningkatnya penggunaan kendaraan pribadi dan layanan transportasi berbasis aplikasi.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved