Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Harga BBM Naik

Harga Pertamax di Makassar Naik 32 Persen, Biaya Operasional Usaha Berpotensi Melonjak

Dampak kenaikan harga Pertamax semakin terasa ketika pasokan bahan bakar subsidi di sejumlah SPBU terbatas atau bahkan habis akibat antrean panjang.

Tayang:
Penulis: Rudi Salam | Editor: Alfian
Tribun-timur.com/Rudi Salam
HARGA BBM - Potret antrean di SPBU 74.902.32 Jalan Urip Sumoharjo, Kota Makassar, Sulsel, usai kenaikan harga Pertamax, Rabu (10/6/2026). Kenaikan harga BBM Pertamax di diperkirakan akan memberikan dampak langsung terhadap pengeluaran masyarakat dan biaya operasional pelaku usaha. 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamax disebut akan memberikan dampak langsung terhadap pengeluaran masyarakat dan biaya operasional pelaku usaha.

Di Makassar Sulawesi Selatan (Sulsel), harga Pertamax tercatat naik dari Rp12.600 per liter menjadi Rp16.650 per liter.

Kenaikan sebesar Rp4.050 per liter atau sekitar 32,14 persen tersebut menjadi salah satu penyesuaian harga tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.

Pengamat Ekonomi Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, Dr Rendra Anggoro, mengatakan dampak kenaikan harga Pertamax berbeda dengan kebijakan ekonomi lainnya.

Sebab, kenaikan harga Pertamax akan langsung dirasakan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.

“Kenaikan harga BBM akan meningkatkan biaya transportasi dan distribusi barang. Dalam jangka pendek, masyarakat kelas menengah akan merasakan tambahan pengeluaran, sementara pelaku usaha menghadapi kenaikan biaya operasional,” kata Rendra, saat dihubungi Tribun-Timur.com, Kamis (11/6/2026).

Menurut Rendra, jika kondisi tersebut berlangsung dalam waktu yang cukup lama, maka potensi kenaikan harga berbagai kebutuhan pokok juga akan semakin besar.

Baca juga: Legislator Maros Ari Anugrah Kritik Kenaikan Harga Pertamax , Sebut Pertalite Berpotensi Langka

Hal itu disebabkan meningkatnya biaya distribusi yang harus ditanggung pelaku usaha

Rendra menjelaskan, dari perspektif ekonomi, penyesuaian harga Pertamax umumnya dilakukan mengikuti perkembangan harga minyak dunia dan pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.

Ketika harga minyak global meningkat atau nilai tukar rupiah melemah, biaya impor bahan bakar juga ikut naik.

“Oleh karena itu, secara bisnis kenaikan harga Pertamax dapat dipahami. Namun dari sisi masyarakat, waktu dan besaran kenaikan juga menjadi faktor penting karena berkaitan langsung dengan daya beli yang saat ini masih menghadapi berbagai tekanan ekonomi,” jelasnya.

Wakil Dekan 3 FEB Unismuh Makassar ini menilai kenaikan harga Pertamax mencerminkan tantangan yang dihadapi pemerintah dan otoritas ekonomi dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah tekanan global.

Menurut Rendra, stabilitas makroekonomi sering kali menuntut adanya penyesuaian kebijakan yang berdampak pada tingkat mikro atau rumah tangga.
Karena itu, pemerintah perlu memastikan dampak kebijakan tersebut tidak semakin membebani masyarakat.

“Tantangan pemerintah ke depan adalah memastikan bahwa kebijakan-kebijakan tersebut tidak hanya menjaga angka-angka ekonomi tetap baik, tetapi juga tetap mampu melindungi daya beli dan kesejahteraan masyarakat, terutama kelompok yang paling rentan terhadap kenaikan biaya hidup,” jelas Rendra.

Baca juga: Daftar Harga BBM Terbaru Setelah Pertamax Naik Per Juni 2026, Belaku di Makassar dan Provinsi Lain

Sebelumnya, Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Sulsel, Satriya Madjid, mengatakan kenaikan harga bahan bakar non-subsidi tersebut merupakan lonjakan yang cukup besar dan berpotensi meningkatkan biaya operasional berbagai sektor usaha.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved