Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Harga BBM Naik

Tukang Bentor Sidrap Khawatir Pertalite Hilang Usai Harga Pertamax Naik

Menurut Husain, pendapatan pengemudi bentor saat ini rata-rata hanya berkisar antara Rp30 ribu hingga Rp50 ribu per hari.

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Hardiyanti Kamaluddin | Editor: Ansar
Tribun-timur.com/Hardiyanti Kamaluddin
BBM NAIK - Para pengemudi becak motor (bentor) di pangkalannya di Pasar Sentral Pangkajene, Kecamatan Maritengngae, Kabupaten Sidrap, Kamis (11/6/2026). Keluhkan harga BBM naik, para pengemudi bentor yang bergantung kehidupan dari penumpang hanya bisa curhat dari teman ke teman.  

TRIBUN-TIMUR.COM, SIDRAP — Keluhan masyarakat terkait kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) masih terus terdengar di Kabupaten Sidrap.

Di tengah tekanan ekonomi dan meningkatnya berbagai kebutuhan hidup, masyarakat kecil menjadi kelompok yang paling merasakan dampaknya.

Salah satunya adalah para pengemudi becak motor (bentor) yang setiap hari bergantung pada jumlah penumpang untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Kenaikan biaya operasional di tengah pendapatan yang tidak menentu membuat para pengemudi bentor harus memutar otak agar tetap bisa bertahan.

Suara keluhan itu juga datang dari Husain, seorang pengemudi bentor yang ditemui Tribun-Timur.com di kawasan Pasar Sentral Pangkajene, Kecamatan Maritengngae, Kamis (11/6/2026).

Pengemudi becak motor (bentor) di pangkalannya di Pasar Sentral Pangkajene
BBM NAIK - Para pengemudi becak motor (bentor) di pangkalannya di Pasar Sentral Pangkajene, Kecamatan Maritengngae, Kabupaten Sidrap, Kamis (11/6/2026). Keluhkan harga BBM naik, para pengemudi bentor yang bergantung kehidupan dari penumpang hanya bisa curhat dari teman ke teman. 

Lokasi tersebut merupakan salah satu pangkalan tempat para pengemudi bentor menunggu penumpang.

Menurut Husain, pendapatan pengemudi bentor saat ini rata-rata hanya berkisar antara Rp30 ribu hingga Rp50 ribu per hari.

Jumlah itu dinilai semakin tidak sebanding dengan biaya operasional yang terus meningkat.

"Kami mengeluh juga tidak ada efeknya. Paling kami hanya bisa saling curhat sesama teman. Penumpang sekarang semakin berkurang, sementara pendapatan juga makin menipis. Belum lagi kalau Pertalite kosong, terpaksa kami membeli Pertamax," ujarnya.

Husain mengaku kenaikan harga BBM non-subsidi memang belum terlalu dirasakan saat ini.

Namun, ia khawatir apabila Pertalite semakin sulit diperoleh akibat meningkatnya jumlah pengguna yang beralih dari Pertamax.

Ia bahkan mempertanyakan kemungkinan berkurangnya ketersediaan BBM subsidi di masa mendatang.

"Bagaimana kalau ini hanya langkah awal untuk menghilangkan subsidi Pertalite? Misalnya Pertamax dinaikkan dulu, lalu nanti Pertalite makin langka atau bahkan hilang. Otomatis kami harus membeli Pertamax dengan harga Rp16.250 per liter. Bagaimana kami bisa bertahan dengan pendapatan yang pas-pasan seperti ini?" keluhnya.

Kekhawatiran tersebut menggambarkan keresahan yang dirasakan sebagian masyarakat berpenghasilan rendah.

Bagi para pengemudi bentor, kenaikan harga BBM bukan hanya berdampak pada biaya operasional, tetapi juga memengaruhi kondisi psikologis mereka.

Ketidakpastian pendapatan, menurunnya jumlah penumpang, dan kekhawatiran terhadap kenaikan biaya hidup membuat beban ekonomi masyarakat kecil semakin berat.

Mereka berharap pemerintah dapat menjaga ketersediaan BBM subsidi agar tetap mudah diakses oleh masyarakat yang menggantungkan hidup dari pekerjaan sektor informal. (*)

Laporan ReporterSidrap: Hardiyanti Kamaluddin

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved