Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Ramadan 2026

Tarawih Tetap Ramai, Tapi Celengan Masjid Al Markaz Maros Menurun

Meski salat tarawih di Masjid Al Markaz Maros tetap ramai, uang celengan Ramadan tahun ini turun drastis, hanya Rp2 juta per malam.

Tayang:
Editor: Sukmawati Ibrahim
Tribun-timur.com
CELENGAN TARAWIH  – Suasana Masjid Al Markaz Maros, Sulawesi Selatan. Pemasukan celengan Ramadan tahun ini turun drastis, hanya Rp2 juta lebih per malam dibandingkan Rp8 juta sebelumnya. Jamaah tetap ramai, sementara pengurus menyiapkan i’tikaf dan ribuan porsi makanan. 
Ringkasan Berita:
  • Uang celengan Masjid Al Markaz Maros turun drastis selama Ramadan, dari Rp8 juta menjadi Rp2 juta lebih per malam. 
  • Jamaah tetap ramai, lima sampai enam saf per malam. Penurunan dipengaruhi ekonomi, persaingan masjid, dan durasi tarawih. 
  • Pengurus juga menyediakan QRIS, i’tikaf, dan ribuan porsi makanan, tetapi donasi digital belum maksimal.
 
 

TRIBUN-TIMUR.COM - Uang celengan di Masjid Al Markaz Maros, Sulawesi Selatan menurun drastis selama Ramadan 2026.

Masjid Al-Markaz Al-Islami Maros berada di Jl. Jenderal Sudirman, Kelurahan Pettuadae, Kecamatan Turikale.

Jika pada Ramadan sebelumnya pemasukan bisa mencapai lebih dari Rp8 juta per malam, kini hanya sekitar Rp2 juta lebih.

Pelaksana Ketua Harian Pengurus Masjid, Syamsuddin Caco, mengatakan tren penurunan ini juga terjadi di beberapa daerah lain, termasuk Makassar.

“Sama beberapa daerah lain, termasuk Makassar. Jumlah uang celengan juga mengalami penurunan,” katanya, Jumat (13/3/2026).

Menurut Syamsuddin, beberapa faktor memengaruhi turunnya sumbangan jamaah, salah satunya kondisi ekonomi masyarakat yang sedang tidak stabil.

Baca juga: Isi Celengan Masjid Sengkang Didominasi Salat Tarawih dan Subuh

Selain itu, semakin banyak masjid di sekitar Al Markaz Maros dengan fasilitas AC membuat jamaah terbagi.

Kondisi bangunan masjid yang harus menaiki tangga dan durasi tarawih yang lebih lama juga memengaruhi pilihan jamaah.

Meski demikian, jumlah jamaah tetap banyak, rata-rata lima sampai enam saf per malam, masing-masing berisi sekitar 90 orang.

Tidak semua memasukkan uang ke kotak amal.

Pecahan yang paling banyak digunakan Rp2 ribu, Rp5 ribu, dan Rp10 ribu, berbeda dengan tahun sebelumnya yang didominasi Rp20 ribu-Rp50 ribu.

Pengurus masjid menyediakan pembayaran digital QRIS, tetapi hampir tidak ada jamaah yang memanfaatkannya.

Penurunan pemasukan berdampak pada operasional masjid. Dana digunakan untuk honor petugas kebersihan, imam, operator, dan kegiatan Ramadan.

Imam tarawih menerima Rp1,1 juta per malam, imam witir Rp350 ribu, dan empat pembaca fadlan masing-masing Rp1 juta per bulan.

Penceramah setelah Isya dan Subuh menerima Rp700 ribu per sesi.

Memasuki 10 malam terakhir Ramadan, pengurus menambah imam khusus salat lail dan witir, serta menyiapkan i’tikaf bagi jamaah.

Setiap malam tersedia sekitar 1.000 porsi makanan, 200-300 untuk berbuka, dan 700-800 untuk sahur.

Hingga saat ini, baru sekitar 4.000 porsi bantuan makanan dari donatur yang diterima.

Pengurus terus mencari bantuan tambahan untuk memenuhi kebutuhan jamaah selama Ramadan.

Salah seorang jamaah, Rahmat, tetap rutin salat tarawih di Al Markaz Maros.

Ia menilai suasana khusyuk meski tarawih lebih lama dan tetap menyumbang Rp5–10 ribu ke kotak amal.

“Yang penting ikut berpartisipasi,” ujarnya. (*)

 

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved