Faisal Ibrahim Surur, Kisah Inspiratif Sang Pengantar Es Lilin
Haji Faisal Ibrahim Surur mendirikan PT. Saudi Patria Wisata, perusahaan ini kemudian berkembang menjadi salah satu penyelenggara perjalanan ibadah.
“Saya belajar berdagang dari sang kakek yang seorang pedagang kelontong di pasar kalau waktu libur Sabtu dan Minggu bertepatan dengan hari pasar, saya menemani beliau" kenangnya suatu ketika.
“Kami hidup sederhana dan diajarkan untuk tidak memaksakan diri memiliki sesuatu.”
Pada 1989 menjadi titik penting dalam hidupnya. Ia merantau ke Makassar untuk menghafal Al-Qur’an. Impiannya melanjutkan studi ke Mesir akhirnya terwujud setelah ibunya rela menjual gelang emas demi membiayai keberangkatannya.
Di Universitas Al-Azhar Kairo, Faisal tidak hanya menempuh pendidikan agama. Ia juga belajar memahami realitas dunia Islam yang lebih luas. Sekembali ke Indonesia, Faisal memilih menetap di Jakarta dan melanjutkan S2 di Universitas Indonesia sembari bekerja di salah satu travel di Jakarta.
Ia mendirikan PT. Saudi Patria Wisata. Perusahaan ini kemudian berkembang menjadi salah satu penyelenggara perjalanan ibadah yang diperhitungkan di Indonesia. Namun bagi Faisal, keberhasilan bisnis bukanlah tujuan akhir. Ia justru melihatnya sebagai sarana untuk berbagi manfaat.
Kepeduliannya terhadap masyarakat tampak dari berbagai kegiatan sosial yang dilakukan, terutama di kampung halamannya. Salah satunya adalah pembangunan jalan beton sepanjang 315 meter di Pompanua, Sulawesi Selatan. Jalan yang bernilai miliaran rupiah itu dibangun secara swadaya melalui Yayasan Haji Ahmad Surur. Bagi warga setempat, jalan tersebut bukan sekadar infrastruktur. Ia membuka akses ekonomi, mempermudah mobilitas masyarakat, dan memberi harapan bagi daerah yang selama ini kerap terdampak banjir.
Ketika ditanya tentang motivasinya, Faisal menjawab dengan kalimat yang sederhana: “Khairunnas anfau linnas”. Artinya, sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesama.
Kalimat itu barangkali menjadi kunci untuk memahami pilihan hidupnya. Ia tidak terlibat dalam politik praktis, tetapi aktif membantu kegiatan dakwah, pendidikan pesantren, dan beasiswa bagi mahasiswa. Ia membangun bisnis, tetapi tidak melepaskan tanggung jawab sosial.
Di tengah kehidupan publik yang sering dipenuhi kompetisi citra, kisah seperti ini memberi pelajaran penting: bahwa perubahan tidak selalu lahir dari panggung yang gemerlap. Kadang ia justru tumbuh dari kerja-kerja sunyi yang dilakukan dengan kesabaran dan ketulusan.
Program “One Travel One Pesantren” mungkin hanya sebuah gagasan. Namun, di baliknya ada visi besar tentang bagaimana ekonomi, dakwah, dan pendidikan dapat berjalan beriringan. Jika gagasan ini berkembang luas, industri perjalanan ibadah tidak hanya menjadi sektor bisnis yang menguntungkan, tetapi juga menjadi motor penguatan pendidikan Islam di Indonesia.
Di situlah barangkali letak nilai terpenting dari gagasan tersebut: menghubungkan perjalanan spiritual umat dengan pembangunan masa depan mereka. Sebuah jalan hening yang pelan, tetapi menjanjikan arah yang lebih terang bagi umat. Haji Faisal Ibrahim Surur, Mimpi Menjadi Jalan, Kisah Inspiratif Sang Pengantar Es Lilin dari Pompanuna, Bone.(*)
| Momen Lebaran Haji, Syahrul YL Sedih 2 Kali Tinggalkan Tahajjud Sejak 2,5 Tahun di Sukamiskin |
|
|---|
| Resepsi Putra-Putri A Muin Fahmal–Malik Faisal Bertabur Profesor, Silaturahmi Akademisi dan Politisi |
|
|---|
| Bom Diduga Peninggalan Perang Dunia II Meledak di Biak, Dua Tewas dan Empat Warga Masih Hilang |
|
|---|
| Kesurupan di Gunung Nepo Parepare, 20 Pendaki Dievakuasi Tim SAR Gabungan |
|
|---|
| Vihara Girinaga Dipadati 700 Umat Buddha, Waisak 2570 Gaungkan Pesan Damai |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/20260306_FAISAL-IBRAHIM_pendiri-saudi-wisata.jpg)