Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Kolom Teropong: Adab

Salah satu penyebab kerusakan di muka bumi ini karena persoalan adab mulai terlupakan.

Tayang: | Diperbarui:
Ist
TEROPONG - Abdul Gafar Pendidik di Departemen Ilmu Komunikasi Unhas Makassar 

Abdul Gafar
Pendidik di Departemen Ilmu Komunikasi Unhas Makassar

TRIBUN-TIMUR.COM - Salah satu penyebab kerusakan di muka bumi ini karena persoalan adab mulai terlupakan.

Pelajaran hidup tentang adab mulai ditinggakan akibat tekanan yang mendera kepentingan kita.

Apakah adab itu penting? Sebuah pertanyaan kritis yang memerlukan jawaban jujur dari kita.

Kejujuran pun mulai luntur dan tergerus dari khasanah perilaku bernegara dan berbangsa.

Apakah itu adab? Adab adalah sikap, perilaku, dan tata krama yang mencerminkan akhlak mulia dalam hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, maupun lingkungan.

Dalam dunia pendidikan, adab menjadi landasan penting karena ilmu tanpa adab dapat kehilangan manfaat dan nilai moralnya.

Dalam tradisi Islam dikenal ungkapan: “Adab lebih tinggi daripada ilmu.”

Artinya, kecerdasan harus disertai dengan akhlak yang baik agar ilmu membawa kebaikan bagi masyarakat.

Bukan sebaliknya merusak nilai-nilai kehidupan.

Dari definisi di atas, apakah kita masih menjaga hubungan yang baik dengan Tuhan, sesama manusia, dan lingkungan?

Jawabannya jelas ada masalah.

Hari ini, larangan atau perintah dari Tuhan gampang dilanggar.

Ajaran agama jelas-jelas memuat dalam kitab suci, masih saja dilanggar.

Ayat-ayat agama dipelintir berdasarkan selera yang menafsirkannya.

Fatal kan? Tuhan saja dilawan dalil-dalilnya, apalagi dalil yang hanya dibuat oleh manusia.

Penguasa bahkan rakyat kita berani melakukan perlawanan terhadap ayat agama.

Misalnya saja para ahli hukum berdebat tentang pasal yang sama.

Alot perdebatan hingga berbusa-busa mulut mempertentangkannya.

Konfik antarmanusia bukan lagi hal yang luar biasa.

Di mana-mana muncul kekisruhan baik antarindividu maupun antarkelompok.

Saling serang hingga merusak orang lain sudah jamak dilakukan.

Kalau di Sulawesi Selatan dikenal prinsip sipakatau (salingmemanusiakan), sipakainga (salingmengingatkan), dan sipakalabbi (saling memuliakan).

Prinsip agung ini mulai sirna dalam pergaulan sehari-hari kita.

Ketika kita menarik ke dalam dunia pendidikan terlihat juga masalah.

Adab ini terlanggar.

Hubungan anrara pendidik dan anak didik tidak lagi harmonis.

Pendidik melakukan sebuah tindakan yang dianggap masih dalam ranah pendidikan, dapat ditafsirkan salah.

Begitu mudahnya pendidik dikriminalkan karena menghadapi kenakalan anak didiknya.

Orang tua zaman sekarang pun sangat mudah bertindak di luar batas kewajaran terhadap para pendidik.

Pendidik mudah dilaporkan ke polisi.

Kita pun tidak menutup mata dunia pendidikan dirusak oleh pengasuhnya.

Misalnya saja pondok pesantren di sebuah wilayah.

Pesantren tempat ummat belajar tentang keagamaan justeru dirusak oleh sang ‘kyainya’ sendiri.

Kyai yang telah merusak anak santrinya, mesti diberi hukuman yang seberat-beratnya.

Segera eksekusi mati.

Ia telah meninggalkan trauma yang tidak mungkin terlupakan seumur hidup santri.

Dunia pendidikan kita berada dalam titik kritis yang sangat merusak nilai dan rasa kemanusiaan.

Ilmu yang tinggi harus diiringi akhlak yang baik agar menghasilkan manusia yang cerdas, bijaksana, dan bermanfaat bagi masyarakat.

Pendidikan yang berhasil bukan hanya melahirkan orang pintar, tetapi juga pribadi yang beretika dan beradab.

Etika dan adab dilanggar, maka rusaklah dunia pendidikan kita.

Peribahasa lama mengatakan: “Guru kencing berdiri, Murid kecing berlari.

Kini berganti: “Guru kencing berdiri, Murid kencingi guru”. Hehehe, kasihan deh!

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved