Opini Juanto Avol
Loncat Menghapus Jejak?
Namun, hari ini saya tidak akan menulis tentang sejarah kopi, mungkin dilain waktu.
Oleh Juanto Avol
Komisioner Bawaslu Gowa
TRIBUN-TIMUR.COM - Kopi dan lara hidup sama pahitnya, keduanya merupakan peristiwa nyata, fakta sosial kehidupan rakyat menikmati dan menderitanya sebagai kehidupan berbangsa.
Dan konon, asal muasal sejarah kopi, itu dari Afrika.
Kemudian berpindah dari bangsa ke bangsa yang menempuh masa dan lintasan benua dengan jarak ribuan kilo, hingga berakhir di meja kita.
Namun, hari ini saya tidak akan menulis tentang sejarah kopi, mungkin dilain waktu.
Tetapi, satu hal yang pasti, peredaran jejak kopi akan meninggalkan kenangan dan ingatan tentang cita, rasa dan karakter pahit sebagai kopi.
Ia dicampurkan dengan apapun, kopi akan selalu memantik memori ingatan sebagai jejak yang tak terlupakan.
Lalu, maukah kita sejenak menyeruput kopi, sembari menengok riwayat dulu dan kini, sebuah bangsa yang sangat kelam dan pahit?
Dialah Ethopia, bangsa yang mungkin diketahui sebagian orang melalui lagu.
Pembungkaman terhadap media kala itu ikut menelan pahitnya kehidupan disana.
Jujur saja, era 90-an saya kali pertama mengenal Ethopia lewat lagu penyanyi legendaris, Iwan Fals.
Generasi android kini, Gen Z, mungkin tak banyak tau soal itu, dia sibuk dengan Tik Tok-nya yang jungkir balik jumparingan tak beretika, kurang peka dengan pranata sosial sekitarnya.
Baginya, Tik Tok adalah dunia visual yang lebih mempesona dari ingatan gelap Ethopia.
Ethopia, kala itu meradang, darah dan air mata sudah biasa membasahi gersangnya tanah disana.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/20260507-Juanto-Avol-Komisioner-Bawaslu-Gowa.jpg)