Kolom Klakson
Klakson: Pengangguran
Ada motivator yang senantiasa memberi tips-tips penyemangat agar kita mampu meraih cita-cita, setidaknya hidup layak.
Sarjana dianggap tak berguna sebab menjadi TKI nyata mensolusikan persoalan ekonomi disana.
Disuatu pagi jelang siang, saya merefleksikan fenomena-fenomena itu.
Otak kecil saya termenung.
Bahwa kenyataan-kenyataan tentang rumitnya dunia kerja diatas menegaskan susahnya menjalankan tips-tips yang beredar di layar Medsos terkait metode mengatasi problem hidup dinegeri kita.
Terbayanglah munjungnya pengangguran-pengangguran muda dinegeri tua ini.
Fenomena itu pun menggiring kita untuk mencari apa sesungguhnya yang terjadi dinegeri subur ini.
“Pekerjaan” ibaratnya buronan yang dicari semua orang, tetapi dengan penuh kerumitan.
Sebab kini, mencari pekerjaan lebih rumit dibanding mencari pelaku kejahatan.
Bahkan kini, menjadi preman pun lebih susah apalagi bekerja disektor formal.
Dengan kondisi itu, mau tak mau, kita pasti tergerak untuk menilai kepemimpinan disegala level dinegeri kita.
Merekalah sebenarnya solusi pengangguran kita.
Sayangnya, mereka terlalu canggih membangun program pembangunan, sementara masalah pengangguran muda tak kunjung disolusikan.
Bilapun lapangan kerja diciptakannya, tak lama ruang kerja itu krisis kepercayaan publik lantaran perilaku korup menyertai pengelolaannya.
Lihatlah BGN sebagai contoh terbaru. Petingginya diterungku karena penyelewengan.
Ditengah wabah pengangguran, memang Medsos seringkali menjadi obat penawar sejenak.
Sebab pada Medsos, berhamburan motivator ulung dengan beragam metodenya, namun mungkin sama ketidaktahuannya.
Mereka sama-sama tak tahu bahwa di dunia nyata, “menganggur” bisa memicu gejolak asam lambung.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Abdul-Karim-Ketua-Dewas-LAPAR-Sulsel-Majelis-Demokrasi-Humaniora-1.jpg)