Kolom Klakson
Klakson: Pengangguran
Ada motivator yang senantiasa memberi tips-tips penyemangat agar kita mampu meraih cita-cita, setidaknya hidup layak.
Pendekatan ini khas gaya agama.
Bahwa untuk meraih keberlimpahan rezeki dan kemudahan segala urusan haruslah rutin ibadah serta menjalankan sejumlah amalan-amalan khusus.
Niscaya dengan itu, solusi atas segala persoalan—terutama persoalan ekonomi segera terjawab.
Tapi di halaman sejumlah media massa, terbersik pemandangan yang tak wajar.
Ribuan orang antri mencari kerja dalam dalam sebuah gelar Loker akbar, di Jakarta pada Kamis (4/6/2026) lalu.
Gelaran Jakarta Job Fair 2026 yang digelar di GOR Senen, Jakarta Pusat itu dibanjiri pelamar kerja terutama Gen Z.
Dika (20), pemuda gen Z asal Bekasi, Jawa Barat, mengaku susahnya mencari kerja dalam dua tahun terakhir.
Ia sudah lebih dari 100 kali melamar pekerjaan.
Mulai dari posisi sales, operator forklift (truk industri) hingga kurir sudah dicobanya (Kompas.com, 5/6/2026).
Fenomena lainnya, banyak sarjana belia yang hingga kini tak dapat pekerjaan.
Mereka menjadi beban orang tua hingga usai sarjana.
Pengangguran sarjana semakin meluas.
Dengan kondisi begitu, keberadaan sarjana menjadi persoalan sosial dalam negeri kita.
Di sebuah desa di Rembang, Jawa Tengah, menjadi TKI lebih dominan dibanding melanjutkan kuliah di perguruan tinggi.
Disana, para anak muda berbondong bekerja sebagai TKI.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Abdul-Karim-Ketua-Dewas-LAPAR-Sulsel-Majelis-Demokrasi-Humaniora-1.jpg)