Kilas Tokyo
Saatnya Kita Maju
Kini saatnya kita Maju! Ini bukan sekedar kata kosong, tapi kesempatan emas itu benar benar ada sekarang. Kita punya potensi besar untuk itu.
Oleh: Muh. Zulkifli Mochtar
Diaspora Indonesia di Tokyo, Ketua ICMI Jepang
TRIBUN-TIMUR.COM - Kini saatnya kita Maju! Ini bukan sekedar kata kosong, tapi kesempatan emas itu benar benar ada sekarang. Kita punya potensi besar untuk itu.
Bayangkan ada 25 persen atau sekitar 65 juta anak berusia 0-14 tahun kita, menurut data BPS 2020. Juga ada sekitar 70 juta usia 15-29 tahun.
Struktur demografi penduduk juga makin didominasi warga yang 'digital native', pengguna internet mencapai 200 juta jiwa lebih menurut laporan bertajuk ‘Digital 2021.
Warga muda kita makin eksis di dunia online dan trend medsos.
Apalagi mereka adalah penentu wajah Indonesia 10, 20 atau 30 tahun mendatang.
Mari kita lihat betapa Jepang tahun belakangan ini harus berjibaku menghadapi penurunan penduduk usia produktifnya.
Kelahiran anak kontinyu turun setiap tahun.
Masalah tidak mudah terselesaikan.
Sudah banyak inisiatif dan stimulus telah coba dilakukan terutama pemerintah lokal.
Tidak membuahkan hasil.
Malah jumlah populasi usia 65 tahun keatas terus menjulang; sudah mencapai sepertiga penduduk.
Bisa dibayangkan, warga berusia 80 tahun keatas sudah lebih dari 10 persen.
Milenial Jepang juga berubah.
Karena khawatir - terutama masalah ekonomi, banyak memilih tidak berkeluarga.
Inilah satu penyulut rendahnya kelahiran anak diatas.
Instrumen lain banyak bemunculan, kepemilikan rumah anak muda yang menyusut misalnya.
Menurut laporan ekonomi Business Insider tahun 2024 lalu, tahun 2018 hanya 26 persen homeownership rate dimiliki kepala rumah tangga kelompok usia 30 hingga 34 tahun — turun dari 46 % pada tahun 1983.
Mereka cenderung lebih ingin ‘diversified values’, kepemilikan properti bukan masalah besar.
Disinilah bonus demografi – sebuah istilah yang dipopulerkan oleh ekonom Harvard David Bloom dan David Canning, adalah kesempatan emas maju secara signifikan sebuah negara.
Indonesia menurut prediksi akan mengalami fase ini ditahun 2030 hingga 2040 dimana usia produktif 15-64 tahun bisa mencapai 60 persen dari total populasi.
Dimasa fase krusial ini - Education, Research and Development adalah sebuah kunci penting untuk menuju negara maju ekonomi.
Menurut Syarkawi Rauf di Harian Fajar, terdapat 33 negara yang mampu tumbuh lebih dari 10 persen dalam 50 tahun terakhir ini.
Misalnya Jepang yang mampu tumbuh dua digit selama sejak tahun 1960 – 1969.
Juga misalnya Brazil yang mampu melakukan hal sama dalam tahun 1966 – 1975.
Meski mampu tumbuh double digit, ternyata ada perbedaan.
Jepang mendorong pertumbuhan ekonomi negaranya dengan berkonsentrasi dalam tabungan dalam negeri, peningkatan skilled worker dan proses adaptasi teknologi dari luar secara kuat.
Sementara Brazil lebih fokus pada reformasi keuangan dan modernisasi ekonomi.
Hasilnya, Jepang kini telah menjadi negara sangat maju dalam ekonomi dan pioneer dalam teknologi.
Pertanyaan terbesar, bagaimana persiapan kita menjelang fase nanti?
Bagaimana kesiapan industri maju kita?
Bagaimana level pendidikan maju kita?
Ya, masih banyak pekerjaan rumah kita saat ini.
Selain itu masalah rumit aneh lain semisal korupsi dan sejenisnya juga merusak gerak langkah langkah maju kita.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Zulkifli-Mochtar-07032026.jpg)