Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Menjadi Dosen di Era Ketika Semua Orang Bisa Menjawab

Mahasiswa mengerjakan tugas dengan bantuan kecerdasan buatan. Mereka bertanya kepada ChatGPT, Gemini, atau berbagai aplikasi AI lainnya.

Tayang:
Editor: Sudirman
Tribun-timur.com/Ist
OPINI - Nur Afiaty Mursalim Dosen Prodi Sarjana Promosi Kesehatan FIKK UNM 

Oleh: Nur Afiaty Mursalim

Dosen Prodi Sarjana Promosi Kesehatan FIKK UNM

TRIBUN-TIMUR.COM - Beberapa hari terakhir saya kembali menyaksikan pemandangan yang semakin biasa di kampus.

Mahasiswa mengerjakan tugas dengan bantuan kecerdasan buatan. Mereka bertanya kepada ChatGPT, Gemini, atau berbagai aplikasi AI lainnya.

Dalam hitungan detik, jawaban muncul. Cepat, rapi, dan sering kali cukup meyakinkan.

Pemandangan seperti ini mungkin tidak pernah dibayangkan oleh generasi dosen sebelumnya.

Dulu, mahasiswa datang ke kampus karena dosen dianggap sebagai salah satu sumber utama pengetahuan.

Jika ingin memahami teori, mereka mencari buku atau bertanya kepada dosen.

Hari ini, seorang mahasiswa bisa memperoleh ribuan informasi hanya melalui telepon genggam yang ada di tangannya.

Sebagian orang melihat fenomena ini sebagai ancaman. Ada yang khawatir profesi dosen akan tergantikan. Ada pula yang menganggap mahasiswa menjadi semakin malas berpikir.

Sebagai dosen yang baru genap satu tahun menjadi ASN, saya justru melihat fenomena ini sebagai pengingat bahwa dunia sedang berubah lebih cepat daripada yang kita bayangkan.

Saya teringat perjalanan saya sendiri. Dari guru honorer, empat kali mengikuti seleksi ASN, hingga akhirnya dipercaya menjadi dosen pada program studi yang masih sangat muda di Universitas Negeri Makassar.

Ketika pertama kali menjadi dosen, saya membayangkan tantangan terbesar adalah menguasai materi perkuliahan, meneliti, dan membimbing mahasiswa.

Ternyata tantangannya lebih besar dari itu.Tantangan terbesar hari ini adalah bagaimana tetap relevan di tengah dunia yang berubah sangat cepat.

Ketika mahasiswa dapat memperoleh jawaban dalam hitungan detik, dosen tidak lagi cukup hanya menjadi pemberi jawaban.

Ketika AI mampu menjelaskan konsep dengan bahasa yang sederhana, dosen tidak lagi cukup hanya menjadi penyampai materi.Peran dosen perlahan bergeser.

Kami harus menjadi fasilitator yang membantu mahasiswa berpikir kritis. Kami harus menjadi mentor yang membantu mahasiswa memilah informasi yang benar dan yang keliru.

Kami harus menjadi teladan dalam menjaga integritas akademik ketika teknologi membuat segala sesuatu terasa semakin mudah.

Sebab persoalan terbesar bukanlah AI yang mampu menjawab pertanyaan. Persoalan terbesar adalah ketika manusia berhenti bertanya.

Saya sering menemukan mahasiswa yang mampu menghasilkan tugas dengan sangat baik menggunakan bantuan teknologi.

Namun ketika diajak berdiskusi lebih dalam, mereka kesulitan menjelaskan alasan di balik jawaban tersebut. Di situlah saya menyadari bahwa pendidikan tidak pernah sekadar tentang menemukan jawaban yang benar.

Pendidikan adalah tentang membangun cara berpikir.Teknologi dapat membantu seseorang menulis.

Namun teknologi tidak otomatis membuat seseorang bijaksana. AI dapat membantu menyusun argumen.

Namun AI tidak otomatis membuat seseorang memiliki integritas.

Karena itu, saya percaya profesi dosen tidak akan hilang. Yang akan hilang adalah cara lama menjadi dosen

Dosen yang hanya mengandalkan ceramah mungkin akan semakin ditinggalkan. Dosen yang tidak mau belajar teknologi mungkin akan kesulitan mengikuti perkembangan zaman.

Tetapi dosen yang mampu membimbing, menginspirasi, dan membangun karakter mahasiswa akan tetap dibutuhkan.

Sebagai dosen muda, saya melihat perubahan ini sebagai tantangan sekaligus kesempatan.

Tantangan untuk terus belajar. Kesempatan untuk menjadi bagian dari generasi akademisi yang membangun pendidikan tinggi yang lebih adaptif.

Mungkin itulah alasan mengapa saya masih menyimpan mimpi untuk melanjutkan studi doktoral di luar negeri.

Dunia kesehatan masyarakat menghadapi persoalan yang semakin kompleks. Untuk menjawabnya, kita membutuhkan cara berpikir yang lebih terbuka, kolaboratif, dan global.

Satu tahun menjadi dosen mengajarkan saya bahwa ilmu pengetahuan akan terus berubah. Teknologi akan terus berkembang.

Bahkan mungkin suatu hari nanti AI akan jauh lebih canggih daripada sekarang.

Namun ada satu hal yang tidak boleh hilang dari pendidikan: kemampuan manusia untuk berpikir kritis, menjaga integritas, dan menggunakan pengetahuan demi kebaikan bersama.

Dan selama nilai-nilai itu masih penting, profesi dosen akan tetap memiliki tempat di masa depan.

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved