Opini
Semakin Berilmu, Semakin Merendah
Ungkapan Arab ini mengandung hikmah yang sangat mendalam tentang perjalanan seorang pencari ilmu.
Pada tahap ini ia menyadari bahwa sebuah persoalan tidak selalu sesederhana yang dibayangkannya. Banyak hal yang ternyata memiliki dimensi yang kompleks.
Kesadaran ini melahirkan kerendahan hati. Ia tidak lagi mudah menghakimi, tidak tergesa-gesa menyimpulkan, dan lebih banyak mendengar daripada berbicara.
Inilah makna dari kalimat "barang siapa mempelajari dua jengkal, ia menjadi rendah hati." Orang dengan karakter ini telah mengadopsi ilmu padi, makin berisi makin merunduk.
Tahap tertinggi dalam ungkapan tersebut adalah ketika seseorang telah menempuh perjalanan ilmu yang panjang. Ia telah membaca, meneliti, mengajar, dan berdialog dengan banyak orang.
Namun justru pada titik itu ia menyadari bahwa apa yang diketahuinya hanyalah setetes air dibandingkan samudra ilmu Allah Swt.
Kesadaran ini pernah diungkapkan oleh para ulama besar sepanjang sejarah. Imam Malik, misalnya, pernah ditanya 40 pertanyaan, dan hanya menjawab 4 atau 8 pertanyaan, sementara sisanya beliau jawab dengan "Lā adrī" (Saya tidak tahu).
Mereka yang diakui keilmuannya justru sering mengatakan, "Saya tidak tahu." Bagi mereka, pengakuan atas keterbatasan diri bukanlah kelemahan, melainkan puncak kebijaksanaan.
Integritas ilmiah terkadang ditunjukkan bukan dengan banyaknya jawaban, tetapi dengan keberanian mengakui batas pengetahuan.
Al-Qur'an sendiri mengingatkan manusia tentang keterbatasan pengetahuannya:
وَمَا أُوتِيتُم مِّنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا.
"Dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit." (QS. Al-Isra': 85)
Ayat ini mengajarkan bahwa sehebat apa pun pencapaian manusia dalam ilmu pengetahuan, semuanya tetap sangat terbatas dibandingkan ilmu Allah yang tidak bertepi.
Di era digital saat ini, pesan tersebut menjadi semakin relevan. Kemudahan mengakses informasi sering membuat seseorang merasa ahli hanya karena membaca beberapa artikel atau menonton beberapa video.
Padahal informasi bukanlah ilmu, dan ilmu bukanlah kebijaksanaan. Kebijaksanaan lahir ketika ilmu membentuk karakter, melahirkan kerendahan hati, dan mendorong seseorang untuk terus belajar.
Maka ukuran keberhasilan dalam menuntut ilmu bukanlah seberapa banyak gelar yang diperoleh, seberapa banyak buku yang dibaca, atau seberapa sering pendapat kita diikuti orang lain.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/2026-05-19-Rukman-Abdul-Rahman-Said-DosenKetua-LP2M-UIN-Palopo.jpg)