Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Salam Tribun Timur

Inflasi di Meja Makan

Tetapi inflasi selalu punya cara unik menyembunyikan masalahnya. Ia tidak selalu terasa di angka. Ia terasa di meja makan. Di warkop. Di dompet.

Tayang:
Istimewa
INFLASI SULSEL - Kepala BPS Sulsel, Aryanto, memaparkan kondisi inflasi Sulsel dalam konferensi pers disiarkan langsung melalui YouTube BPS Sulsel, Senin (5/1/2026). Sulsel inflasi month to month (mtm) atau bulan ke bulan sebesar 0,49 persen pada Desember 2025. 

TRIBUN-TIMUR.COM - Inflasi Sulawesi Selatan pada Mei 2026 tampak jinak-jinak saja.

Angkanya hanya 0,09 persen secara bulanan.

Secara tahunan 3,12 persen.

Bahkan jika dilihat sepintas, ini terlihat seperti kabar baik.

Tidak tinggi. Tidak meledak.

Tetapi inflasi selalu punya cara unik menyembunyikan masalahnya.

Ia tidak selalu terasa di angka.

Ia terasa di meja makan.

Di warkop. Di dompet. Di wajah ibu rumah tangga saat berbelanja.

Di pelaku usaha kecil yang mulai menghitung ulang biaya hidup.

Dan di Sulsel, penyumbang inflasi itu terasa sangat membumi: nasi dengan lauk.

BPS Sulsel, 2 Juni 2026, mengumumkan, kelompok penyedia makanan dan minuman/restoran menjadi penyumbang utama inflasi Mei bersama sektor transportasi.

Penyumbang terbesarnya bukan barang mewah.

Bukan mobil. Bukan elektronik. Tetapi nasi dengan lauk.

Artinya sederhana: makan mulai terasa lebih mahal.

Mungkin tidak langsung mengejutkan.

Tidak sampai membuat orang demonstrasi.

Tetapi cukup membuat banyak keluarga mulai menyesuaikan pengeluaran.

Porsi jajan dikurangi. Nongkrong ditahan.

Lauk dipilih lebih hati-hati.

Yang juga menarik, secara tahunan inflasi Sulsel bukan hanya dipengaruhi makanan.

Ada emas perhiasan yang ikut menyumbang cukup besar.

Ini semacam potret dua wajah ekonomi Sulsel hari ini.

Di satu sisi, warga berhadapan dengan naiknya biaya kebutuhan sehari-hari.

Di sisi lain, emas justru naik dan tetap diburu.

Biasanya, ketika ketidakpastian ekonomi meningkat, orang mencari tempat aman menyimpan nilai.

Emas menjadi pilihan.

Maka angka inflasi tahun ini seperti bercerita tentang dua kelas sosial yang berjalan beriringan: ada yang sedang berhitung untuk makan, ada yang sedang berhitung membeli emas.

Karena itu, pemerintah tidak boleh hanya puas melihat angka inflasi yang masih terkendali.

Inflasi rendah belum tentu rasa aman masyarakat tinggi.

Yang paling perlu dijaga justru harga pangan sehari-hari.

Stabilitas harga bahan pokok, transportasi, dan makanan jadi harus menjadi perhatian utama.

Pemerintah daerah perlu lebih agresif memperkuat operasi pasar, memastikan distribusi pangan lancar, dan mencegah spekulasi harga di tingkat distributor maupun pengecer.

Sebab rakyat kecil tidak terlalu peduli apakah inflasi 0,09 persen atau 3,12 persen.

Yang mereka rasakan sederhana: apakah uang belanja masih cukup sampai akhir bulan.

Inflasi memang statistik.

Tetapi dampaknya selalu personal.

Dan ketika nasi dengan lauk mulai menjadi penyumbang utama kenaikan harga, itu pertanda yang perlu dibaca dengan serius. Wassalam.(*)

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved