Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Pancasila dan Tindakan Nyata

Merah putih berkibar di setiap sudut kota, lengkap dengan untaian kata-kata heroik tentang kebangsaan dan persatuan.

Tayang:
Editor: Sudirman
Tribun-timur.com/ist
OPINI - Adekamwa Humas Pusjar SKMP LAN 

Oleh: Adekamwa 

Humas Pusjar SKMP LAN

TRIBUN-TIMUR.COM - Setiap bulan Juni dan Agustus, ruang publik kita selalu tenggelam dalam lautan spanduk dan baliho.

Merah putih berkibar di setiap sudut kota, lengkap dengan untaian kata-kata heroik tentang kebangsaan dan persatuan.

Di ruang-ruang rapat pemerintahan, pidato terdengar memuji kesaktian ideologi kita. Namun, mari kita lihat apa yang terjadi di luar gedung-gedung itu. 

Seorang ibu mungkin masih menangis karena terjebak rumitnya birokrasi layanan publik dasar.

Seorang pemuda kesulitan mencari pekerjaan yang layak. Ada jurang yang sangat lebar antara gegap gempita perayaan nasional dengan realitas keseharian warga.

Penulis meyakini bahwa kita perlu jujur melihat realitas ini apa adanya.

Apa Kata Bung Hatta?

Gejala ini bukanlah sebuah fenomena baru. Jauh pada bulan Agustus 1952, Wakil Presiden Mohammad Hatta telah memberikan peringatan yang sangat tajam melalui amanatnya. 

Beliau secara eksplisit menegaskan, "Kemauan bekerdja jang besar, mengerti akan hasil buah pekerdjaan jang akan diperoleh, adalah merupakan batu udjian suatu bangsa sampai dimana kesanggupannja untuk mempertahankan Kemerdekaan.

Tapi dewasa ini kita terlalu dipengaruhi oleh suasana kegembiraan karena sudah merdeka, saja katakan mabuk merdeka." (Majalah Penuntun, terbitan Kementerian Agama RI, Tahun V, No. 8–9, Agustus 1952, hlm. 86).

Bung Hatta dengan jernih mengingatkan bahwa kemerdekaan bukanlah sebuah "gutji wasiat" yang otomatis mengabulkan segala keinginan.

Cita-cita pendirian Republik ini berpijak pada empat pilar pokok: Indonesia yang Merdeka, Berdaulat, Adil, dan Makmur. 

Faktanya, kita baru berhasil mengecap dua pilar pertama. Keadilan dan kemakmuran masih jauh dari genggaman karena kita terlalu sering mengganti kerja keras dengan perayaan artifisial.

Semboyan memang pernah memiliki tempat emas dalam sejarah kita. Di masa revolusi fisik, pekik kemerdekaan sangat dibutuhkan untuk menyalakan api perlawanan. 

Akan tetapi, seperti rumusan Hatta yang melampaui zamannya, kita tidak bisa memajukan bangsa hanya bermodalkan jargon:

"Kita tidak bisa mentjapai Indonesia jang Makmur hanja dengan sembojan2. Sembojan tetap diperlukan untuk menjalakan semangat. Tapi sembojan ini harus realistis sesuai dengan masa pembangunan sekarang. Oleh karena itu kita harus bekerdja dengan pengertian disiplin untuk mengatasi segala kesukaran jang menghambat djalan kita menuju Kemakmuran Rakjat Indonesia." 

Hari ini, ancaman terbesar kita bukan lagi penjajah asing dari seberang lautan. Ancaman nyata kita adalah ketimpangan sosial, korupsi yang mengakar, dan inefisiensi pengelolaan layanan informasi publik.

Dalam menghadapi krisis nyata ini, slogan yang diulang-ulang sering kali hanya berfungsi sebagai tameng untuk menutupi kelambanan kinerja institusional. 

Rasa memiliki masyarakat terhadap negaranya tidak tumbuh dari seberapa sering mereka disodorkan seminar pembinaan ideologi.

Publik menilai keadilan dari transparansi informasi, kemudahan akses layanan, dan respons yang cepat terhadap keluhan mereka di sektor publik.

 Tindakan nyata selalu berhasil meruntuhkan sinisme, sedangkan janji kosong hanya akan mempertebal ketidakpercayaan terhadap negara.

Anak Anak Muda yang Melihat

Tentu saja, ada pihak yang berargumen bahwa penanaman ideologi melalui narasi besar tetap mutlak diperlukan.

Di era digital yang dipenuhi disinformasi dan ancaman polarisasi, pengulangan nilai-nilai dasar negara dianggap sebagai jangkar pemersatu bangsa. 

Banyak yang meyakini bahwa tanpa kampanye verbal yang masif dan terus-menerus, generasi muda akan mudah kehilangan arah serta identitas kebangsaannya.

Menurut Penulis, argumen tersebut memiliki dasar, namun melupakan kenyataan krusial: audiens modern saat ini sangat kritis. Mereka dapat dengan cepat mendeteksi formalitas komunikasi yang tidak tulus. 

Narasi persatuan sekuat apa pun tidak akan efektif jika perut rakyat masih lapar, atau jika hukum memihak kelompok tertentu.

Apa yang diamati Penulis, semboyan memang penting untuk menjaga ingatan, tetapi hal itu harus bermuara pada disiplin eksekusi. 

Menyuapi publik hanya dengan kata-kata tanpa menghadirkan perbaikan layanan yang nyata tidak akan melahirkan patriot; hal itu justru melahirkan generasi yang sinis dan apatis.

Anak-anak muda melihat. Mereka memperhatikan. Mereka ingin bukti. Mereka ingin tahu apakah Pancasila hanya diucapkan atau benar-benar dijalankan. 

Karena itu, para pemimpin harus memberi contoh. Mereka harus menunjukkan bagaimana hidup untuk bangsa dengan jujur dan terhormat. 

Dari contoh itu, generasi muda belajar membangun Indonesia yang adil, makmur, dan berdaulat.

Syahdan, tanyakan pada diri Anda sendiri hari ini: apakah kita masih akan terus sibuk merakit kata-kata, atau berani mulai membangun karya nyata?

 

 

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved