Opini
Pancasila dan Tindakan Nyata
Merah putih berkibar di setiap sudut kota, lengkap dengan untaian kata-kata heroik tentang kebangsaan dan persatuan.
Semboyan memang pernah memiliki tempat emas dalam sejarah kita. Di masa revolusi fisik, pekik kemerdekaan sangat dibutuhkan untuk menyalakan api perlawanan.
Akan tetapi, seperti rumusan Hatta yang melampaui zamannya, kita tidak bisa memajukan bangsa hanya bermodalkan jargon:
"Kita tidak bisa mentjapai Indonesia jang Makmur hanja dengan sembojan2. Sembojan tetap diperlukan untuk menjalakan semangat. Tapi sembojan ini harus realistis sesuai dengan masa pembangunan sekarang. Oleh karena itu kita harus bekerdja dengan pengertian disiplin untuk mengatasi segala kesukaran jang menghambat djalan kita menuju Kemakmuran Rakjat Indonesia."
Hari ini, ancaman terbesar kita bukan lagi penjajah asing dari seberang lautan. Ancaman nyata kita adalah ketimpangan sosial, korupsi yang mengakar, dan inefisiensi pengelolaan layanan informasi publik.
Dalam menghadapi krisis nyata ini, slogan yang diulang-ulang sering kali hanya berfungsi sebagai tameng untuk menutupi kelambanan kinerja institusional.
Rasa memiliki masyarakat terhadap negaranya tidak tumbuh dari seberapa sering mereka disodorkan seminar pembinaan ideologi.
Publik menilai keadilan dari transparansi informasi, kemudahan akses layanan, dan respons yang cepat terhadap keluhan mereka di sektor publik.
Tindakan nyata selalu berhasil meruntuhkan sinisme, sedangkan janji kosong hanya akan mempertebal ketidakpercayaan terhadap negara.
Anak Anak Muda yang Melihat
Tentu saja, ada pihak yang berargumen bahwa penanaman ideologi melalui narasi besar tetap mutlak diperlukan.
Di era digital yang dipenuhi disinformasi dan ancaman polarisasi, pengulangan nilai-nilai dasar negara dianggap sebagai jangkar pemersatu bangsa.
Banyak yang meyakini bahwa tanpa kampanye verbal yang masif dan terus-menerus, generasi muda akan mudah kehilangan arah serta identitas kebangsaannya.
Menurut Penulis, argumen tersebut memiliki dasar, namun melupakan kenyataan krusial: audiens modern saat ini sangat kritis. Mereka dapat dengan cepat mendeteksi formalitas komunikasi yang tidak tulus.
Narasi persatuan sekuat apa pun tidak akan efektif jika perut rakyat masih lapar, atau jika hukum memihak kelompok tertentu.
Apa yang diamati Penulis, semboyan memang penting untuk menjaga ingatan, tetapi hal itu harus bermuara pada disiplin eksekusi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/2026-05-02-Adekamwa4.jpg)