Opini
Pancasila Ada di Dinding, Oligarki Ada di Ruang Rapat
Di tengah terdapat lambang Garuda dengan butir-butir Pancasilanya, di sebelah kanan foto presiden, dan di sebelah kiri foto wakil presiden.
Semua orang berbicara tentang pentingnya menjaga Pancasila.
Namun pada saat yang sama, berbagai persoalan yang menyentuh kehidupan rakyat terus berulang.
Ketimpangan ekonomi masih menjadi kenyataan yang sulit diabaikan.
Konflik agraria terus muncul dari tahun ke tahun.
Biaya pendidikan semakin tinggi.
Kesempatan ekonomi tidak selalu terbuka secara setara.
Sementara akses terhadap sumber daya ekonomi dan politik masih menunjukkan kecenderungan terkonsentrasi pada kelompok-kelompok tertentu.
Di tengah perayaan tersebut, muncul pertanyaan yang mungkin terasa tidak nyaman: apakah kita sedang merayakan Pancasila atau sekadar merayakan simbol tentang Pancasila?
Pertanyaan itu penting diajukan bukan untuk meragukan Pancasila.
Justru karena Pancasila terlalu penting untuk hanya diperlakukan sebagai ritual tahunan.
Pancasila lahir bukan sebagai pajangan negara, melainkan sebagai janji kolektif tentang masyarakat yang lebih adil dan lebih manusiawi.
Di sinilah kegelisahan itu menemukan konteksnya.
Ketika berbagai keputusan yang menentukan arah kehidupan publik terasa semakin dekat dengan kepentingan pemilik modal dibandingkan kepentingan masyarakat luas, maka kita perlu bertanya kembali tentang posisi rakyat dalam upaya pembangunan bangsa ini.
Banyak orang mungkin menganggap oligarki sebagai istilah yang terlalu akademik.
Padahal dampaknya dapat dirasakan dalam kehidupan sehari-hari.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/20250817-Andi-Dody-May-Putra-Agustang.jpg)