Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini Muh Iqbal Latief

Menyembelih Sifat Kebinatangan

Karena itu, penggunaannya juga berbeda dalam konteksnya, berkorban bersifat umum sedangkan berqurban bersifat khusus dan religius.

Tayang:
Muh Iqbal Latief/Tribun Timur
PENULIS OPINI - Muh Iqbal Latief, salah seorang penulis opini aktif Tribun-Timur.com. Selain itu, Iqbal Latif juga menulis kolom Lensa Publik di Tribun Timur cetak yang terbit setiap hari Kamis. Iqbal Latif adalah Dosen Sosiologi FISIP /Kapuslit Opini Publik LPPM Unhas. 

Oleh: Muh. Iqbal Latief
Dosen Sosiologi/Kapuslit Opini Publik LPPM Unhas

TRIBUN-TIMUR.COM - Di setiap peringatan hari raya Idul Adha, selalu saja kita disuguhi topik ceramah dari para ustad atau kiai tentang makna berkurban pada prosesi hari raya haji (10 Dzulhijah) tersebut.

Berulang-ulang disampaikan bahwa hikmah Idul Adha atau sering juga disebut Idul Qurban, adalah berupaya mengambil pelajaran tentang ketaatan dan kepatuhan seorang Hamba (Nabi Ibrahim AS) kepada Tuhan-Nya (Allah SWT) terhadap perintah mengorbankan anaknya (Nabi Ismail AS) dengan cara disembelih.

Sang anak pun dengan ketaatannya, bersedia dan ridho untuk disembelih.

Namun ada hal yang sering rancu dipahami masyarakat awam, tentang pengertian berkorban dan berqurban (berkurban).

Secara etimologis kedua kata ini memiliki persamaan dan perbedaan.

Dalam hal persamaan, makna esensial memperlihatkan bahwa kedua kata tersebut sama-sama diartikan sebagai ikhtiar yang memerlukan keikhlasan untuk melepaskan atau memberikan sesuatu yang berharga demi tujuan lebih mulia baik untuk kemanusiaan maupun ibadah.

Dalam keseharian, kata berkorban lebih sering digunakan untuk menggambarkan semangat dari berqurban (misalnya, meneladani kesabaran dan pengorbanan Nabi Ibrahim AS).

Tetapi perbedaannya, berkorban lebih dimaknai secara sosiologis sedangkan berqurban (berkurban) orientasinya pada ritual (ibadah).

Karena itu, penggunaannya juga berbeda dalam konteksnya, berkorban bersifat umum sedangkan berqurban bersifat khusus dan religius.

Di setiap ceramah atau khutbah, para dai juga menekankan bahwa Idul Qurban selalu disimbolisasi dengan menyembelih hewan (domba, kambing atau sapi/kerbau).

Proses ritual penyembelihan tersebut, dimaknai sebagai upaya sungguh-sungguh untuk memotong sampai habis sifat kebinatangan yang selalu ada dalam diri manusia.

Sifat inilah yang sangat membahayakan dan menghancurkan manusia baik dirinya maupun lingkungannya.

Sifat kebinatangan pada manusia dimaknai sebagai perilaku yang memiliki kecenderungan untuk bertindak dengan hanya berdasarkan  insting (naluri), hawa nafsu, dan ego tanpa kendali akal sehat atau moral.

Hal ini merujuk pada sisi primitif manusia yang mengutamakan kepentingan diri sendiri, mengabaikan etika dan seringkali merugikan orang lain demi mencapaian tujuannya.

Dalam berbagai perspektif moral dan spiritual, sifat kebinatangan ini umumnya mencakup beberapa karakteristik utama yaitu; (a) egoisme dan mau menang sendiri, diejawantahkan dalam bentuk dorongan untuk selalu mendahulukan kepentingan pribadi di atas segalanya, tanpa memedulikan hak atau perasaan orang lain; (b) agresivitas dan kekerasan, wujudnya adalah kecenderungan menyelesaikan masalah menggunakan kekuatan fisik, intimidasi atau arogansi.

Hal ini  sering diibaratkan seperti hukum rimba, yang kuat berkuasa dan yang lemah tertindas; (c) keserakahan atau rakus, perilaku ini diwujudkan dalam bentuk dorongan tanpa batas untuk menguasai sumber daya, harta atau kekuasaan yang tanpa rasa puas atau rasa empati untuk berbagi, dan; (d) tunduk pada hasrat sesaat, ini lebih tampak pada sikap dan tindakan yang hanya memuaskan syahwat atau keinginan duniawi secara membabi buta tanpa memikirkan dampak jangka Panjang.

Secara sufistik (agama), sifat kebinatangan sangat melekat dengan konsep manusia yang gagal mendidik hawa nafsunya.

Menurut Imam Al-Ghazali, terdapat dua sifat kebinatangan dasar dalam diri manusia, yaitu Sabi’iyyah artinya sifat seperti binatang buas yang mendorong manusia untuk marah, menyerang, mendzalimi, dan menyakiri orang lain.

Ada juga Bahimiyyah yaitu sifat seperti binatang ternak yang mendorong manusia hanya diperbudak oleh perut dan syahwat (selalu merasa kurang, serakah, dan menuruti hawa nafsu).

Lantas, bagaimana mengatasi sifat kebinatangan yang selalu bersemayam dalam diri?

Paling hakiki adalah selalu menggunakan akal dan hati nurani dalam bersikap dan bertindak.

Caranya; (a) mengendalikan diri (self control) dalam bentuk menerapkan kedisiplinan dan moralitas untuk menahan dorongan instingtif yang merugikan; (b) refleksi dan ibadah, artinya praktek spiritual sering dijadikan sarana untuk menyembelih” sifat buruk tersebut seperti makna filosofis dalam ibadah Qurban yang mengajarkan keikhlasan, berbagi dan menekan ego.

Jadi menyembelih sifat kebinatangan, mestikah harus menunggu hari raya Qurban dulu atau harus dilakukan rutin setiap hari?

Mari sama-sama memulainya setiap saat ……(*)

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved