Opini Muh Iqbal Latief
Partai Golkar Sulsel, Lakekomae?
Masih ingat sebuah sajak karya penyair Aspar Paturusi tahun 1990 yang berjudul “Lakekomae”? Ini istilah Bahasa Makassar.
Oleh: Muh Iqbal Latief
Dosen Sosiologi Fisip Unhas
TRIBUN-TIMUR.COM - Masih ingat sebuah sajak karya penyair Aspar Paturusi tahun 1990 yang berjudul “Lakekomae”? Ini istilah Bahasa Makassar, yang harfiahnya berarti “mau kemana”.
Tetapi makna Lakekomae, tidak sekedar menanyakan kemana, pertanyaan ini muncul pada saat kita sudah bingung dan cenderung kehilangan kesadaran akan tujuan awal yang ingin dicapai.
Kebuntuan yang menyebabkan sikap yang gundah gulana, membuat seseorang yang melihat sikap tersebut spontan akan berkata “lakekomae” (sebenarnya mau kemana ?).
Istilah ini relevan dipertanyakan kepada partai Golkar Sulsel saat ini.
Kisruh yang terjadi di tubuh partai Golkar Sulsel, beberapa hari ini telah menjadi perhatian publik dan menghiasi berita di berbagai koran, menegaskan masih adanya masalah serius di internal kepengurusan Golkar Sulsel yang dikomandoi Taufan Pawe atau TP (yang juga Walikota Pare-Pare).
Sebagaimana diberitakan media massa lokal, bentrok internal yang berujung saling dorong dan hampir adu jotos antara massa Kadir Halid dengan massa AMPG (Angkatan Muda Partai Golkar) yang diketuai Rahman Pina, dibaca oleh publik sebagai bagian dari friksi yang masih ada di tubuh Golkar Sulsel.
Hal ini juga menegaskan bahwa konsolidasi internal cenderung belum berjalan dengan baik, sehingga masih ada kelompok dalam kepengurusan yang merasa diabaikan.
Tentu implikasi dari masalah internal tersebut, akan mempengaruhi kinerja Golkar Sulsel memenangkan kontestasi Pemilu 2024.
Apalagi jika mengamati perolehan suara Golkar di Sulsel selama kurun waktu 10 tahun terakhir, cukup memprihatinkan.
Pada Pemilu tahun 2009, Golkar Sulsel meraih 8 kursi DPR-RI. Namun pada Pemilu 2014, perolehan DPR-RI turun menjadi 5 kursi dan pada Pemilu 2019 turun lagi tinggal 4 kursi di Senayan.
Begitu juga, dominasi Golkar di DPRD Sulsel mengalami penurunan.
Kalau pada Pemilu 2009, Golkar meraih 18 kursi. Pada Pemilu 2014, justru turun menjadi 17 kursi (padahal ada penambahan 10 kursi sehingga total kursi di DPRD Sulsel menjadi 85 dari sebelumnya 75 kursi).
Di Pemilu 2019, turun lagi hanya meraih 13 kursi (walaupun posisi Ketua DPRD Sulsel masih dipegang Golkar).
Lebih memprihatinkan, karena dominasi Golkar pada DPRD kota Makassar yang sudah berlangsung lama, tapi pada Pemilu 2019 direbut partai Nasdem sehingga ketua DPRD kota Makassar diraih Nasdem.(Sumber data : KPU Sulsel)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/logo-tribun-timur-1-2102021.jpg)