Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Kolom Teropong

Hancur

Aturan yang mengikat diabaikan dengan seenaknya. Seharusnya aturan untuk menjaga ketertiban, malah justru dirusak dengan sikap arogan.

Tayang:
Ist
TEROPONG - Abdul Gafar Pendidik di Departemen Ilmu Komunikasi Unhas Makassar 

Abdul Gafar
Pendidik di Departemen Ilmu Komunikasi Unhas Makassar

TRIBUN-TIMUR.COM - Hari ini persoalan hancur dan menghancurkan dianggap sudah biasa.

Dunia pun akan dihancurkan ketika hari Kiamat.

Kehancuran di dunia adalah sebuah kepastian yang disengaja.

Ini terlihat dalam skala lokal, regional, maupun global.

Sikap ‘jagoan’ diperagakan tanpa alasan kemanusiaan yang beradab.

Pihak yang merasa kuat selalu memulai perseteruan.

Aturan yang mengikat diabaikan dengan seenaknya.

Seharusnya aturan untuk menjaga ketertiban, malah justru dirusak dengan sikap arogan.

Terjadi Hukum Rimba, siapa kuat dialah yang menang.

Apabila kita berbicara penegakan hukum, itu benar dalam konsep dan teori.

Tetapi faktanya, justru itu bertentangan.

Perdebatan-perdebatan sengit terjadi saling menyerang.

Terkadang kontroversi bergeser jauh dari perdebatan.

Perdebatan menjadi menarik sebagai hiburan konyol yang menyesakkan.

Dalam tayangan media penyiaran, kita sudah terbiasa menontonnya.

Bahkan penulis sering menugaskan mahasiswa peserta kuliah menontonnya.

Hasil tontonan itu dikomentari berdasarkan teori-teori yang dipelajari.

Seharusnya kita menjadikan media sebagai salah satu forum pembelajaran dan pencerahan.

Justru yang terjadi ‘kekacauan berpikir’ yang keluar.

Padahal negara ini telah mengatur dalam undang-undang tentang pemanfaatan media.

Media telah dijadikan sebagai senjata untuk melakukan provokasi bahkan manipulasi informasi.

Mereka telah merusak organ kesadaran berpikir dengan licik.

Apabila ini terjadi, maka langkah perusakan menuju kehancuran mulai bergulir.

Agama Islam telah mengingatkan jauh ribuan tahun yang lalu.

Bagaimana kehancuran dapat terjadi akibat dikendalikan orang yang bukan ahlinya.

Tidak dapat menjalankan amanah alias bertanggung jawab.

Negeri kita menyimpan banyak rekaman sejarah orang-orang perusak dan penghancur negara.

Perilaku yang dapat menghancurkan sebuah negara meliputi korupsi yang merusak fondasi ekonomi.

Separatisme yang memecah belah keutuhan wilayah, dan intoleransi yang memicu konflik horizontal.

Selain itu, radikalisme, terorisme, dan penyebaran hoaks juga menjadi ancaman nyata bagi kedaulatan bangsa.

Kasus-kasus di atas terus berjalan.

Ibarat pepatah mengatakan : “mati satu, tumbuh seribu”.

Korupsi terus berjalan dengan berbagi cara.

Sanksi hukumnya pun terlalu ringan, tidak membuat jera para koruptor.

Mereka berleha-leha menikmati uang hasil jarahannya.

Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto mengatakan bahwa korupsi harus ‘dibersihkan’ di negeri ini.

Siapa saja koruptor akan dikejar bahkan hingga ke Antartika.

Antartika adalah benua paling selatan di Bumi yang meliputi Kutub Selatan.

Hampir seluruh wilayahnya sekitar (98 persen) tertutup lapisan es tebal.

Meskipun diselimuti es, benua ini secara teknis adalah gurun karena curah hujan yang sangat rendah.

Ternyata hingga saat ini belum ada koruptor Indonesia bermukim di Antartika.

Masih berada di sekitar kita saja, hahaha.

Menghindari kerusakan dan kehancuran yang lebih parah perlu kriteria.

Oleh karena itu perlu diperhatikan setiap pemangku jabatan menyangkut:

(1). Keahlian (Profesionalisme): Islam sangat menekankan pentingnya kompetensi dan profesionalisme. Seseorang harus mengerjakan sesuatu sesuai dengan bidang dan kapasitas ilmunya.

(2). Amanah: Jabatan, pekerjaan, atau tanggung jawab adalah sebuah amanah besar yang akan dimintai pertanggungjawaban.

(3). Dampak Sosial: Menempatkan orang yang tidak tepat di suatu posisi atau pekerjaan tidak hanya merusak institusi tersebut, tetapi juga dapat memicu kekacauan atau kehancuran sistem yang lebih luas.

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved