Opini
Dolar Naik, UMKM Tercekik
Bagi sebagian orang, kabar ini mungkin hanya terlihat sebagai angka di layar televisi atau notifikasi berita ekonomi di ponsel.
Mereka bukan malas bekerja.
Mereka hanya sedang berada dalam sistem yang membuat ruang bernapas semakin sempit.
Dalam perspektif ekonomi syariah, usaha seharusnya tumbuh dalam hubungan yang lebih adil dan saling menguatkan.
Islam tidak menolak keuntungan, tetapi menolak praktik ekonomi yang membuat satu pihak terus menikmati kepastian keuntungan sementara pihak lain menanggung seluruh tekanan usaha.
Karena itu, sudah waktunya Indonesia mulai lebih serius membangun model penggerak ekonomi berbasis kemitraan dan produktivitas, bukan semata-mata ekspansi kredit.
Salah satu gagasan yang layak dipikirkan adalah membangun Dana Kemitraan Produktif Nasional berbasis syirkah dan bagi hasil untuk UMKM.
Dalam model ini, pemerintah tidak hanya menjadi penyalur stimulus, tetapi menjadi penghubung ekosistem usaha yang sehat.
Negara dapat bekerja sama dengan perbankan syariah, koperasi, BUMN, kampus, komunitas bisnis, hingga masjid produktif untuk mendampingi UMKM secara nyata.
Pelaku usaha tidak lagi dibebani bunga tetap yang harus dibayar dalam kondisi apa pun, tetapi menjalankan pola kemitraan berbasis bagi hasil sesuai kemampuan usaha mereka.
Jika usaha berkembang, keuntungan dibagi bersama.
Jika usaha sedang sulit, risiko juga ditanggung secara proporsional.
Hubungan yang tercipta bukan lagi sekadar kreditur dan debitur, melainkan hubungan yang saling mendukung untuk bertumbuh.
Model seperti ini sebenarnya sangat dekat dengan budaya masyarakat Indonesia.
Kita punya semangat gotong royong, solidaritas sosial, dan komunitas yang kuat.
Potensi itu tinggal diarahkan menjadi kekuatan ekonomi yang nyata.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Dien-Triana-17052026.jpg)