Opini
Kopdes Merah Putih dan Revolusi Ekonomi Lokal
Kehadiran koperasi ini menjadi salah satu langkah penting dalam memperkuat ekonomi berbasis desa dan kelurahan.
Oleh: Dr Bahtiar Maddatuang
Dosen Program Doktor Program Pascasarjana AMKOP Makassar / Rektor AMKOP Makkassar (2014-2024)
TRIBUN-TIMUR.COM - Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih sangat strategis dalam membangkitkan perekonomian rakyat.
Kehadiran koperasi ini menjadi salah satu langkah penting dalam memperkuat ekonomi berbasis desa dan kelurahan.
Berdasarkan data BPS 2024, mayoritas penduduk miskin berada di desa, yakni mencapai 13,01 juta jiwa dari total 24,06 juta penduduk miskin di Indonesia.
Sementara itu, dari 75.753 desa di Indonesia, sebanyak 7.154 desa masih berstatus Desa Tertinggal dan 4.850 lainnya tergolong Desa Sangat Tertinggal berdasarkan data Kemendesa PDTT tahun 2024.
Gagasan Presiden Prabowo Subianto membentuk 80 ribu Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih melalui Inpres Nomor 9 Tahun 2025 merupakan transformasi besar dalam membangkitkan ekonomi nasional melalui kemandirian desa berbasis koperasi.
Kopdes Merah Putih disiapkan sebagai instrumen untuk membantu masyarakat keluar dari belenggu kemiskinan.
Setiap koperasi desa nantinya dilengkapi bangunan multifungsi.
Mulai dari kantor koperasi, outlet penjualan sembako, layanan simpan pinjam untuk modal kerja masyarakat desa, klinik dan obat-obatan, gudang saprodi dan offtaker, hingga armada truk untuk mendukung distribusi logistik desa.
Fasilitas tersebut dirancang untuk memperkuat pengembangan usaha koperasi yang berkelanjutan dan terintegrasi.
Koperasi Desa Merah Putih akan menjadi poros kegiatan ekonomi desa, baik sebagai pusat distribusi maupun pusat produksi masyarakat.
Kehadiran koperasi diharapkan mampu mengefisienkan biaya ekonomi yang selama ini merugikan masyarakat desa.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa makelar, tengkulak, atau pengijon menyerap keuntungan sebesar 30 hingga 64 persen dari hasil petani.
Akibatnya, kerugian masyarakat desa diperkirakan mencapai Rp300 triliun per tahun.
Melalui dukungan pemerintah dan penguatan koperasi bersama anggotanya, kondisi tersebut dapat ditekan.
Koperasi mampu menstabilkan harga di tingkat konsumen, meminimalkan peran broker, menjaga inflasi, meningkatkan Nilai Tukar Petani (NTP), memperbesar daya beli masyarakat desa, hingga menciptakan lapangan kerja dan mengurangi kemiskinan.
Kopdes Merah Putih juga akan berkembang menjadi gerakan ekonomi masyarakat desa.
Masyarakat desa dengan kesadaran bersama diyakini dapat menjadikan koperasi sebagai jalan keluar dari kemiskinan sekaligus mendorong perubahan pola pikir menuju ekonomi yang lebih mandiri dan modern.
Dari sisi penyerapan tenaga kerja, Koperasi Desa dan Kelurahan Merah Putih berpotensi menyerap ratusan ribu hingga jutaan tenaga kerja produktif di desa.
Jika 82 ribu Kopdes Merah Putih terbentuk dan setiap koperasi membutuhkan minimal 10 tenaga kerja, maka akan tercipta sekitar 800 ribu lapangan kerja.
Bahkan jika setiap koperasi membutuhkan hingga 100 pekerja, maka potensi tenaga kerja yang terserap bisa mencapai 8 juta orang.
Pemerintah melalui Kementerian Koperasi juga akan mengimplementasikan program pelatihan dan pendampingan.
Para pengurus dan anggota koperasi didorong memanfaatkan teknologi digital, seperti e-commerce, aplikasi manajemen, hingga sistem pengawasan koperasi berbasis digital.
Koperasi harus siap bersaing dan kompatibel dengan perkembangan bisnis modern.
Keberadaan 82 ribu Kopdes Merah Putih juga akan menciptakan efek jaringan (network effect).
Semakin banyak desa yang terhubung dalam jaringan koperasi, semakin besar pula manfaat yang diperoleh anggota dan masyarakat.
Jaringan produksi yang kuat dapat menopang kebutuhan industri nasional.
Selain itu, anggota koperasi juga dapat saling berbagi pengetahuan bisnis, memperkuat daya tawar kolektif dengan pemasok maupun offtaker, hingga membangun sistem distribusi logistik antarwilayah berbasis platform digital.
Sebagai soko guru perekonomian bangsa, koperasi bukan sekadar lembaga ekonomi.
Koperasi adalah gerakan rakyat yang menyasar petani, nelayan, pelaku UMKM, dan masyarakat kecil di seluruh penjuru negeri.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Bahtiar-Maddatuang-15052026.jpg)