Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Literasi Ulama

Haul Ke-5 AGH. Sanusi Baco

Beliau wafat 15 Mei 2021 tepat 5 tahun yang lalu. Sosoknya dirindukan semua kalangan yang pernah berinteraksi dengannya.

Tayang:
Ist
oOPINI - Firdaus Muhammad, Pembina Pesantren An-Nahdlah, Dosen UIN Alauddin dan Pengurus MUI Sulsel 

Oleh: Firdaus Muhammad
Pembina Pesantren An-Nahdlah, Dosen UIN Alauddin dan Pengurus MUI Sulsel

TRIBUN-TIMUR.COM - Keluarga Besar Pesantren Nahdlatul Ulum Maros memperingati haul ke-5 Anregurutta Haji (AGH). Sanusi Baco Lc, ratusan santri, alumni, pembina dan keluarga menyatu mengenang sosok dan keteladanan beliau.

Beliau wafat 15 Mei 2021 tepat 5 tahun yang lalu.

Sosoknya dirindukan semua kalangan yang pernah berinteraksi dengannya.

Kata-kata dan nasehatnya mengesankan, semua orang merasa dihargai, ucapannya menyenangkan disertai senyum dan tawa khasnya.

Penampilannya juga selau rapi menambah kharismanya.

Kisah perjalanan hidup AGH. Sanusi Baco penuh warna.

Beliau pernah mengisahkan penggalan perjalanan hidupnya kepada penulis tahun 2017.

Bagian mengesankan dari buku itu yang membuat beliau menangis kala mengenang masa kecilnya, kebersamaan tak terlupakan kala ibunya Besse Daeng Ratu, wafat.

Beliau gambarkan, rembulan di langit tidak seperti pada malam-malam sebelumnya.

Seakan murung dan kehilangan cahaya.

Biasanya, Desa Talewe Bontoa Maros, desa itu akan menunjukkan pesona kecantikannya bermandi cahaya tapi kali ini hanya kabut, kabut yang menyungkupkan kemalangan ke dalam rumah Baco Daeng Naba.

Malam yang merambat dalam keheningan, pecah oleh isak tangis seorang anak lelaki Bernama Sanusi Baco yang menyaksikan kematian ibunya.

Hatinya hancur berkeping-keping sewaktu sang ibu menghembuskan nafasnya yang terakhir di pangkuannya.

AGH. Sanusi Baco Lc kala itu, kenangnya, dirinya belum mau melepas pandang dari wajah sang ibu yang membujur kaku.

Sanusi seperti tidak percaya bahwa “malaikat” penjaganya di dunia itu telah pergi untuk selama-lamanya.

Ia hanya berucap lirih, “Engkau ibuku, sungai kerinduanku… sepanjang hidupku tak pernah sekalipun melihat keningmu berkerut. Engkau senantiasa pandai menyembunyikan segenap dukamu di hadapan anaknya”.

AGH. Sanusi Baco Lc tak bisa menghitung jasa kebaikan dan keteladanan ibu yang melahirkannya pada tanggal 3 April 1937 di Desa Talawe Kecamatan Bontoa Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan.

Talawe desa terpencil berjarak 7 kilo meter dari kota, berada di utara Maros, di daerah ituah ia dilahirkan dan dibesarkan dalam kesederhanaan.

Perjalanan hidupnya penuh suka dan duka.

Orang tuanya mendorongnya meraih cita-citanya dalam keterbatasan ekonomi.

Kebahagiaan pasangan Baco Daeng Naba dan Basse Daeng Ratu semakin tergenapkan dengan kehadiran putra keduanya yang diberi nama Sanusi.

Sekolah di SR Maros, Ia dikirim ke Mangkoso belajar di Pesantren DDI Mangkoso Barru yang dibina Anregurutta KH. Abdurrahman Ambo Dalle dan AGH. Amberi Said.

Kemudian kuliah di Makassar lalu ke Mesir.

Pulang dari Mesir mengabdi di UIN Alauddin sebagai dosen, mengajar di sejumlah STAI Al-Ghazali di daerah, Ketua Yayasan Masjid Raya dan Ketua Umum MUI.

Mendirikan Pesantren Nahdlatul Ulum.

Wafat 15 Mei 2021, dimakamkan di tanah kelahirnnya.

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved