Kante
Boleh dikata, kala itu, Kante, berpenghasilan sekitar 5,1 Miliar perpekan, atau setara 20,4 Miliar sebulan
Dalam kehidupan ini, sebaliknya, sering pula dijumpai ada banyak orang memilih agama sebagai hoby. Tapi hoby menjadikan agama sebagai "topeng politik", hoby menjadikan agama sebagai pemantik kepentingan.
Bahkan yang memilukan, hoby menjadikan agama di mimbar-mimbar media sosial sebagai instrumen doktrinisasi radikalisme, politik pragmatis dalam pusaran politik identitas, miris.
Sejatinya agama tak keliru, penganutnyalah yang kadang "nyemplang". Agama, memang sesuatu yang menarik sejak zaman bahoela (tempo dulu) sampai kini, sebagai topeng dan "peluru" yang mengoyak sendi sosial.
Pada akhirnya, kisah si Kante bisa menjadi hikmah, bahwa apa pun perjalanan hidup ini, jadilah tamu mulia yang diundang oleh sang pemilik kehidupan melakoni hidup yang plural.
Jadikan agama sebagai petunjuk ketaqwaan, bukan hoby sebagai alat.
Tetaplah yang terpilih, sederhana dan bermanfaat kepada sesama. "Tapi ini bukan soal Kante". (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/20260507-Juanto-Avol-Komisioner-Bawaslu-Gowa.jpg)