Opini Amir Muhiddin
Donald Trump, Aku Benci Padamu
Aku benci Padamu, itulah rangkaian kata yang pantas ditujukan pada diri Donald Trump akibat kebijakan-kebijakan politiknya.
Oleh: Amir Muhiddin
Wakil Ketua Himpunan Indonesia untuk Pengembangan Ilmu-Ilmu Sosial (HIPIIS) Sulsel
TRIBUN-TIMUR.COM - Aku benci Padamu, itulah rangkaian kata yang pantas ditujukan pada diri Donald Trump akibat kebijakan-kebijakan politiknya.
Masyarakat dunia, termasuk juga mayoritas rakyat Amerika membenci perilaku Trump karena berakibat pada kematian, kesensaraan dan keresahan di berbagai belahan dunia, terutama di timur tengah, khususnya Iran, Gaza dan Libanon.
Alih-alih menyebut diri sebagai Champion Of Demorachy dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, nyatanya justru menjadi otoriter dan pelanggar HAM yang terburuk sepanjang sejarah.
Aku benci pada Donald Trump, juga terjadi di Indonesia.
Dampak Perang AS dan Iran serta semakin memanasnya situasi di selat Hormuz pada akhirnya memberi dampak bagi ekonomi Indonesia, dan kalau ini tidak dikelola dengan baik maka tidak menutup kemungkinan akan merambah pada krisis politik yang embrionya sudah mulai terasa.
Baca juga: Donald Trump, Aku Tidak Takut
Seperti diketahui bahwa hingga saat ini beban APBN semakin bertambah, dimana kenaikan harga minyak dunia menekan anggaran subsidi energi nasional karena biaya impor migas yang membengkak.
Rupiah pun mengalami tekanan dan melemah terhadap dolar AS akibat ketidakpastian pasar global dan kenaikan harga komoditas impor.
Selain itu di sektor Ekspor, Indonesia berpotensi kehilangan nilai ekspor hingga sekitar 1,4 miliar dolar AS akibat gangguan rute perdagangan ke Timur Tengah.
Demikian juga harga pangan lokal biayanya semakin meningkat, transportasi dan logistik mulai berdampak pada harga pangan impor dan barang kebutuhan pokok di dalam negeri.
Di Iran sendiri hingga akhir April 2026, akibat konflik dengan koalisi Amerika Serikat dan Israel dilaporkan telah menelan korban 3.400 jiwa.
Angka ini mencakup personel militer maupun warga sipil.
Yang memprihatinkan karena rakyat yang tidak berdosa, termasuk perempuan dan anak-anak pun turut jadi korban.
Tentu kita masih ingat insiden Sekolah Dasar Shajarah Tayyebeh 28 Februari 2026 lalu, dimana sedikitnya 165 hingga 200 siswa tewas karena sebuah rudal Tomahawk Amerika Serikat yang menghantam Kota Minab, Iran Selatan.
Selain itu, serangan udara di Isfahan Maret 2026 lalu yang dilakukan oleh gabungan AS dan sekutunya dilaporkan telah menyebabkan kematian 26 warga sipil, termasuk tujuh anak-anak.
Selanjutnya, meskipun kejadiannya sudah lama, akan tetapi Rakyat dan pemerintah Iran tidak pernah melupakan peristiwa kelabu tanggal 3 Juli 1988, ketika kapal perang AS USS Vincennes menembak jatuh pesawat komersial Iran Air 655.
Peristiwa ini menewaskan seluruh penumpang, yaitu 290 orang, termasuk 66 anak-anak.
Hingga kini AS masih melakukan blokade di Selat Hormuz.
Donald Trump sejak 13 April 2026 telah memerintahkan Angkatan Laut AS untuk memulai blokade total terhadap Iran.
Operasi ini menargetkan semua kapal yang menuju atau keluar dari pelabuhan Iran.
Hingga saat ini, Komando Pusat AS (CENTCOM) melaporkan telah menginterogasi setidaknya 33 kapal dan memaksa puluhan lainnya putar balik.
AS menegaskan bahwa blokade ini akan terus berlanjut hingga Iran menyetujui kesepakatan permanen mengenai program nuklirnya.
Blokade maritim total yang diterapkan AS terhadap Selat Hormuz, tentu saja menjadi tantangan bagi Iran, terutama dari aspek ekonomi, karena itulah Iran pun melakukan balasan dengan menutup selat Hormuz untuk semua pelayaran asing.
Meskipun sempat dibuka singkat pada pertengahan April, Iran segera menyegel kembali jalur tersebut hanya dalam hitungan jam setelah AS memperketat blokade di selat Hormuz.
Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) telah menyerang dan menyita beberapa kapal dagang asing, termasuk kapal Epaminondas dan MSC Francesca pada 22 April 2026.
Iran menegaskan bahwa "keamanan Selat Hormuz tidak gratis" dan tidak akan menjamin keamanan bagi pihak lain jika ekspor minyaknya dibatasi.
Hingga kini Iran telah mengajukan proposal melalui mediator (Pakistan) untuk membuka kembali Selat Hormuz, namun dengan syarat yang sangat spesifik berikut:
Yang pertama AS harus mengakhiri blokade pelabuhan Iran secara total.
Kedua Pengakhiran agresi militer di kawasan.
Ketiga Penundaan negosiasi program nuklir hingga setelah perang berakhir.
IRGC mengeluarkan peringatan keras akan melakukan serangan kejutan ke pangkalan-pangkalan militer AS di kawasan jika blokade tidak segera diangkat.
Iran mengklaim telah memasang ranjau laut dan menyiagakan armada drone serta rudal di sepanjang pesisir selat.
Duta Besar Iran untuk PBB bahkan menyatakan bahwa stabilitas permanen di Teluk hanya bisa tercapai jika AS menghentikan kebijakan tekanan ekonomi dan militernya.
Meski Pakistan dan beberapa negara lain masih berupaya melakukan upaya perdamaian, selat Hormuz tetap saja panas dan situasi ini berdampak buruk, terutama dalam ekonomi global.
Para pengamat ekonomi internasional menyebut bahwa situasi di Selat Hormuz per akhir April 2026 telah memicu guncangan hebat pada ekonomi global dan tentu saja domestik Indonesia.
Penutupan jalur ini merupakan salah satu guncangan pasokan energi terbesar dalam sejarah modern.
Seperti diketahui bahwa akibat perang AS-Israel dengan Iran, Harga minyak mentah dunia melonjak tajam.
Minyak Brent tercatat naik ke level US$107,49 per barel pada akhir April, sementara WTI berada di angka US$97,66.
Beberapa analis melaporkan harga sempat menembus US$115 akibat kebuntuan negosiasi AS-Iran.
Seperti diketahui bahwa sekitar 20 persen pasokan minyak dunia yang melewati selat Hormuz terhambat.
Biaya logistik meningkat drastis karena kapal harus memutar melalui rute yang lebih jauh, seperti Tanjung Harapan di Afrika.
Selain itu pearng AS versus Iran pun menciptakan kris turunan, termasuk pangan dan pupuk.
Harga urea (pupuk) global melonjak hingga 86 % sejak awal tahun karena sepertiga perdagangan pupuk laut dunia melewati selat ini.
Sementara itu Inflasi & Resesi pun nampak telah terjadi.
Bank Dunia dan IMF memperingatkan risiko resesi global jika konflik berlanjut, dipicu oleh kenaikan kumulatif harga energi dan pangan.
Kita semua berdoa dan berharap agar Donald Trump semakin sehat dan berpikir waras agar perang segera berakhir, sehingga kebencian terhadap dirinya berubah menjadi simpati, semoga.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Amir-Muhiddin-75.jpg)