Opini Kamaruddin Azis
Ontologi IKA dan Pilihan Orang-orang
organisasi bukan sekadar bagan atau badan hukum; ia adalah jaringan hidup yang terdiri dari relasi, makna, dan tindakan terkoordinasi.
Alumni bukan anggota pasif; mereka adalah kontributor aktif terhadap tantangan global.
Pendekatan “out-of-the-box” terlihat dari pergeseran dari keanggotaan berbasis identitas menuju keterlibatan berbasis misi.
Di Asia, National University of Singapore Alumni bereksperimen dengan klaster industri dan chapter global yang berfungsi layaknya guild profesional, menyatukan alumni bukan hanya berdasarkan nostalgia, tetapi juga keahlian dan kolaborasi sektoral.
Yang membedakan organisasi-organisasi ini bukan semata sumber daya, melainkan ontologi yang mereka praktikkan: mereka bertindak bukan sebagai asosiasi statis, melainkan sebagai jaringan adaptif.
Hal ini menjadi semakin penting dalam dunia VUCA—volatile (bergejolak), uncertain (tidak pasti), complex (kompleks), dan ambiguous (ambigu).
Dalam konteks ini, organisasi alumni harus berevolusi dalam beberapa dimensi.
Mereka perlu beralih dari struktur ke sistem: mengurangi penekanan pada hierarki dan memperkuat konektivitas.
Platform digital, analitik data, dan pemetaan komunitas menjadi alat penting.
Mereka juga harus bergerak dari event ke ekosistem: bukan sekadar menyelenggarakan kegiatan, tetapi mengkurasi peluang—rantai mentoring, jaringan investasi, riset kolaboratif, dan inisiatif dampak sosial.
Selain itu, dibutuhkan kepemimpinan adaptif. Pemimpin harus menjadi fasilitator jaringan, bukan penjaga otoritas.
Itu sejalan dengan gagasan Weick bahwa organisasi terus “dihidupkan” melalui interaksi—sehingga kepemimpinan berarti memungkinkan interaksi bermakna dalam skala luas.
Tak kalah penting adalah kejelasan tujuan (purpose clarity).
Dalam dunia VUCA – volatilty, uncertainty, complexity and ambiguity world, orang berkomitmen pada organisasi yang menawarkan relevansi dan dampak.
Jaringan alumni – di mana dan siapapun ketuanya – harusnya mampu menjelaskan alasan keberadaannya melampaui tradisi—apakah untuk memecahkan masalah sosial, mempercepat karier, atau membangun komunitas intelektual.
Terakhir, mereka harus mengadopsi cara berpikir eksperimental.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Kamaruddin-Azis-Ketua-Bidang-Ekonomi-Kreatif-Selat-Makassar-pada-IKA-Unhas-Sulsel.jpg)