Opini Kamaruddin Azis
Ontologi IKA dan Pilihan Orang-orang
organisasi bukan sekadar bagan atau badan hukum; ia adalah jaringan hidup yang terdiri dari relasi, makna, dan tindakan terkoordinasi.
Reuni, seremoni, dan simbolisme mendominasi, sementara manfaat nyata—seperti jalur karier, proyek kolaboratif, atau keterlibatan intelektual—sangat minim.
Kedua, mereka beroperasi dengan tata kelola yang lemah dan tujuan yang tidak jelas.
Tanpa proposisi nilai yang tajam, partisipasi menjadi opsional dan perlahan menurun.
Sedih sekali saat mendengar ada celetukan para pencari remah rezeki, atau yang lebih satire para pencari selisih ’eshau’.
Ketiga, mereka gagal memanfaatkan efek jaringan (network effects).
Jaringan alumni sebenarnya sangat potensial karena keragaman dan jangkauannya, tetapi banyak organisasi tidak memiliki sistem data, infrastruktur digital, atau program strategis untuk mengaktifkan koneksi tersebut.
Keempat, kepemimpinan sering mencerminkan inersia birokratis—jabatan dipegang untuk prestise, bukan kinerja, sebagaimana kritik Weber terhadap institusi yang kaku.
Terakhir, ini yang paling sering dipertontonkan, terutama di media sosial alumni, mereka terutama alumni tua meremehkan suara perubahan generasi: alumni muda mencari relevansi, kelincahan, dan dampak, bukan hierarki dan formalitas.
Meski begitu, terdapat contoh organisasi alumni di dunia yang mampu keluar dari pola ini melalui pendekatan yang tidak konvensional.
Adakah contoh bagus?
Tidak ada yang spesifik bagus atau bisa berlaku di alumni kita seperti SMP Galesong atau IKA Unhas, tetapi cobalah baca ini. Salah satu yang sering disebut adalah ekosistem alumni Stanford University.
Alih-alih berpusat pada struktur asosiasi formal, Stanford membangun jaringan yang terdesentralisasi dan didorong oleh inovasi.
Keterlibatan alumni tertanam dalam ekosistem kewirausahaan—startup, modal ventura, kolaborasi riset—bukan hanya dalam kegiatan institusional.
Jaringan ini berkembang karena mampu menciptakan nilai ekonomi dan intelektual yang nyata.
Contoh lain adalah MIT Alumni Association, yang menekankan pembelajaran sepanjang hayat melalui kursus terbuka, komunitas digital, dan inisiatif pemecahan masalah.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Kamaruddin-Azis-Ketua-Bidang-Ekonomi-Kreatif-Selat-Makassar-pada-IKA-Unhas-Sulsel.jpg)