Opini
Hadis dan Ilusi Kesalehan Online
Apa yang dulu dianggap cukup untuk diri sendiri, kini terasa “kurang lengkap” kalau belum dibagikan.
Ada semacam pesan kuat bahwa hubungan paling jujur dengan Tuhan justru terjadi ketika tidak ada siapa pun yang melihat. Amal yang tersembunyi itu seperti akar—tidak terlihat, tapi justru menopang semuanya.
Sayangnya, dalam budaya digital, yang tidak terlihat sering dianggap tidak ada.
Ini yang jadi dilema. Di satu sisi kita ingin berbagi kebaikan, di sisi lain kita juga ingin menjaga keikhlasan.
Akhirnya, mungkin yang paling realistis bukan memilih antara “harus ditampilkan” atau “harus disembunyikan”, tetapi bagaimana kita terus jujur pada diri sendiri.
Sesekali membagikan ibadah untuk tujuan yang jelas—seperti edukasi atau motivasi—itu bisa saja.
Tapi kalau setiap momen ibadah selalu ingin dipublikasikan, mungkin perlu ada jeda untuk bertanya ulang: masihkah ini tentang Tuhan, atau sudah bergeser menjadi tentang manusia?
Di tengah dunia yang serba terbuka ini, menjaga ruang privat dalam ibadah justru menjadi semakin penting. Bukan untuk menutup diri, tetapi untuk merawat sesuatu yang paling inti: keikhlasan. Karena pada akhirnya, yang benar-benar bernilai bukan apa yang dilihat orang lain, tetapi apa yang “terlihat” di hadapan Tuhan.
| Hari Buruh: Kerja Layak, Upah Layak |
|
|---|
| Ketika Potongan Video Memanipulasi Publik dan Mengancam Demokrasi |
|
|---|
| A’bulosibatang, Ikhlas, dan Bahagia di Usia 163 Jeneponto |
|
|---|
| B50 Bukan Hanya soal Energi Terbarukan, tapi Juga soal Hilirisasi Sawit |
|
|---|
| Menutup Celah Distorsi Demokrasi pada Pemungutan Suara Ulang di Pemilu |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/2026-04-30-Dr-Amrullah-Harun-SThI-MHum.jpg)